MAKALAH
KONSEP ASWAJA DALAM BIDANG TASAWUF
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah ahlussunnah wajama’ah (ASWAJA) semester 1
(satu)
DosenPembimbing: Drs. H.
Ihwanuddin, M.Kom.I

Disusun oleh :
Nama :
Abi Wisnu Ubaidilah
Fakultas
: Syari’ah
Prodi : Perbankan Syariah
(PBS)
KATA PENGANTAR
Assalamualalaikum wr. wb
Alhamdulillah,
segala puji dan syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semua dan khususnya kepada saya
sehingga dapat menyelesaikan tugas kelompok
(MAKALAH) Mata Kuliah ASWAJA. Sholawat serta salam tetap tercurahkan
kepada Uswatun Hasanah kita yaitu Nabiullah Muhammad SAW yang kita
nanti-nantikan syafa’atnya diyaumul akhir nanti. Dan semoga kita termasuk dari
umatnya yang akan mendapatkan syafa’atnya.
Ucapan
terimakasih kami hanturkan kepada Drs. H.
Ihwanuddin, M.Kom.I, Selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah ASWAJA yang telah memberikan bimbingannya
kepada kami sehingga bisa terselesaikannya dengan pokok bahasan yaitu “KONSEP
ASWAJA DALAM BIDANG TASAWUF”, saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah
ini masih banyak kekurangan dan tentunya perlu ada yang harus di perbaiki.
Oleh karena itu, saran dan bimbingan dari para pembaca yang sifatnya
membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan pembuatan makalah ini dan
semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wassalammu’alaikum wr. wb
|
|
Metro, 16 November 2015
Penyusun
Abi wisnu ubaidilah
|
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang 1
B.
Rumusan masalah 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep ASWAJA Dalam Bidang Tasawuf 2
BAB III KESIMPULAN
A. Kesimpulan 5
DAFTAR PUSTAKA iv
|
A. Latar belakang
Salah
satu ilmu yang dapat membantu terwujudnya manusia yang berkualitas adalah ilmu
Tasawuf. Ilmu tersebut satu mata rantai dengan ilmu-ilmu lainnya dengan pada
sisi luar yang dhahir yang tak ubahnya jasad dan ruh yang tak dapat terpisah
keduanya. Ilmu tersebut dinamakan juga ilmu bathin sebagaimana pendapat Syekh
al-Manawi dalam kitab Faed al-Qadir dalam menjelaskan hadis Nabi :
العلم
علمان فعلم في القلب فذالك علم النافع وعلم علي اللسان قذالك حجة الله علي ابن ادم
(ش) والحكيم
عن الحسن مرسلا (خط) عن جابر (ح) وكيل علم الباطن يخرج من القلب وعلم
الظاهر يخرج من اللسان ‘
Ilmu
itu dua macam, ilmu yang ada dalam qalbu, itulah ilmu yang bermanfaat dan ilmu
yang diucapkan oleh lidah adalah ilmu hujjah/hukum, atas anak cucu Adam. Dari
Abi Syaebah dan Hakim dari Hasan dan dikatakan Syekh al-Manawi bahwa ilmu
bathin itu keluar dari qalbu dan ilmu dhahir itu keluar dari lidah[1].
Selama
manusia itu bernafas, maka dzikir bathin tersebut dapat diamalkan baik di waktu
duduk, berdiri, maupun berbaring, bahkan dalam kondisi bagaimanapun dzikir
bathin itu dapat diamalkan[2].
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian tasawuf?
2. Apa sajakah konsep ilmu tasawuf?
3. Bagaimana sikap batin yang menonjol dalam
tasawuf?
|
A. Konsep Aswaja dalam bidang tasawuf
Seorang hamba diharuskan pula untuk mempraktikkan adab
(etika dan sopan santun) yang sesuai dengan sikap penghambaannya di hadapan
Tuhannya. Etika itu merupakan akhlak yang dipraktikkan Rasulullah SAW
kepada Allah SWT dan kepada sesama mahluk. Aspek ini
disebut dengan Ihsan. Penelitian terhadap dimensi Ihsan inilah yang akhirnya
melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlaq.
Tasawuf atau sufisme ini menjunjung nilai-nilai
kerohanian dan adab sebagai ruh dalam ibadah. Orang yang mempelajari tasawuf
disebut sebagai sufí.
Dalam hal tasawuf, Paham Ahlussunnah WalJamaah
mengikuti tasawuf yang diajarkan oleh Imam Junaid, Imam Ghazali, dan Imam
Qusyairi, terutama Imam Ghazali. Pada intinya, konsep tasawuf yang dihadirkan
para sufí sunni ini berusaha menyampaikan bahwa ilmu tidak akan dinamakan
tasawuf apabila ia tidak dibingkai dalam ajaran syariat islam.
Tasawuf ini seringkali diartikan sebagai ilmu mengenai
tahapan-tahapan menuju puncak pengenalan diri terhadap Allah SWT. Tahapan-tahapan
itu terbagi dalam bagian Thariqoh, Hakikat, dan Ma’rifat. Tasawuf sendiri
merupakan ajaran akhlaq yang didasarkan pada akhlaqnya Nabi Muhammad SAW.
Diantara sikap batin yang menonjol dibahas dalam tasawuf diantaranya mengenai
sikap ikhlas, istiqomah, zuhud dan Wara’.
Thariqoh sebagai jalan awal menuju Ma’rifatu Allah yang
merupakan bagian dari ilmu tasawuf telah diajarkan Nabi Muhammad SAW melalui
sahabatnya seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. dan Sayyidina Abu Bakar
Ash-shiddiq. Diantara thoriqoh mu’tabaroh (sah) dan musalsal
(bersilsilah ilmu hingga ke Nabi Muhammad) diantaranya Thoriqoh Qadiriyah
yang didirikan Syekh Abdul Qodir Al-Jailaniy, Thoriqoh Syadziliyah yang
didirikan Syekh Abul Hasan Ali Assadzili, thoriqoh Naqsabandiyah yang didirikan
Syekh Muhammad Bahaudin An-Naqsabandiy, dan thoriqoh Tijaniyah yang
didirikan Syekh At-Tijaniy. Menurut Habib Luthfi bin Yahya, Mursyid Thariqoh di
Indonesia, Thoriqoh yang mu’tabaroh di Indonesia tercatat sekitar 48
macam.
Mengenai hakikat, telah dijelaskan oleh Imam Al-Qusyairi
bahwa hakikat ialah penyaksian atas rahasia ke-Tuhan-an, semua bentuk ibadah
atau syariat tidak akan mengena jika tidak mengenal intinya (hakikat). Syariat
untuk mengetahui kewajiban suatu perintah dan larangan bermaksiat sementara
hakikat untuk mengetahui makna inti, keputusan Allah, dan rahasia yang ada di
dalamnya.
Kondisi saat berkembangnya Ilmu Tasawuf yang mulai
dituliskan dan dimulai sekitar abad ke-3 H yang memperkenalkan konsep Ittihad
(penyatuan), Hulul (leburnya substansi manusia ke dalam substansi
Ilahi), dan Wahdatul Wujud (penyatuan wujud), serta Wahdatul
Muthalaqah (penyatuan mutlak), dalam pengertian ma’rifat itu ditolak oleh
Imam Abul Hasan Al-Asy’ari karena dianggap tidak sesuai. Sikap Imam Asy’ari itu
didukung dan berusaha diluruskan oleh para tokoh tasawuf sunni, diantaranya
Imam Ghazali, dan Imam Qusyairi. Menurut mereka, tasawuf merupakan upaya
sungguh-sungguh dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin,
melalui sikap zuhud (sikap menjauhi cinta dunia), ketekunan ibadah (al-Nusuk)
dan latihan rohani (al-riyadhoh al-nafs), meskipun harus diakui bahwa
ada dua alam yakni alam dhohir yang dicapai melalui panca indera dan alam batin
yang dicapai dengan sarana emanasi (pancaran rohani) dan ilham, tetapi
hal itu bukanlah melalui proses ittihad, hulul, atau wahdatul wujud,
melainkan melalui proses mukasyafah dan musyahadah (terbukanya
tirai- hijab ghoib dan terbukanya kemampuan untuk melihat keagungan Ilahiyah)
yakni suatu jenis pengetahuan perasaan tertentu yang dimiliki orang-orang yang
sudah mampu melepaskan dirinya dari pengaruh duniawi atau godaan materi dan
mampu berperilaku yang mencitrakan sifat-sifat terpuji. (Ma’rifat Dzauqiyah).
|
|
|
A. Kesimpuan
Tasawuf merupakan tingkah laku seorang hamba
diharuskan pula untuk mempraktikkan adab (etika dan sopan santun) yang sesuai
dengan sikap penghambaannya di hadapan Tuhannya. Etika itu merupakan akhlak
yang dipraktikkan Rasulullah SAW kepada Allah SWT dan kepada sesama mahluk.
Tasawuf yang mulai dituliskan dan dimulai sekitar abad
ke-3 H yang memperkenalkan konsep Ittihad (penyatuan), Hulul
(leburnya substansi manusia ke dalam substansi Ilahi), dan Wahdatul Wujud
(penyatuan wujud), serta Wahdatul Muthalaqah (penyatuan mutlak).
Diantara sikap batin yang menonjol dibahas dalam tasawuf
diantaranya mengenai sikap ikhlas, istiqomah, zuhud dan Wara’. Dari penjelasan di atas, dapat
dipahami bahwa Tasawuf adalah salah satu dari ilmu-ilmu ke-Islaman yang begitu
menarik untuk dikaji.
[1]
Mustafa Muhammad al-Allāmah al-Manawi, Faedul Qadīr, jilid IV: Sanabun
Maktabah, (Mesir), hal-390
[2] Sahabuddin, Metode Mempelajari
Ilmu Tasawuf, menurut Ulama Sufi, (Surabaya: Media Varia Ilmu), hal-6.
DAFTAR PUSTAKA
Mustafa Muhammad al-Allāmah al-Manawi, Faedul Qadīr, jilid IV:
Sanabun Maktabah, (Mesir: Sanabun Maktabah),
hal-390.
Sahabuddin,,
1996, Metode Mempelajari Ilmu Tasawuf, menurut Ulama Sufi, (Surabaya: Media Varia Ilmu), hal-6.
Iman, 23 juli 2008, https://imanaswaja.wordpress.com/2008/07/23/pengantar-aqidah-syariah-dan-tasawuf-aswaja/, 16 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar