Senin, 26 September 2016

Filsafat Paragmatisme




 
BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern, khususnya abad ke-17, adalah persoalan epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bercorak epistemologis ini, maka dalam filsafat abad ke-17 munculah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut adalah rasionalisme dan empirisme. Empirisme itu sendiri pada abad ke-19 dan 20 berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda, yaitu: rasionalitas, empirisme dan pragmatisme.
Dalam hal ini pemakalah akan menjelaskan mengenai penjelasan filsafat pragmatisme, yang akan dijelaskan dibawah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa maksud dari pragmatisme?
2.      Siapakah tokoh-tokoh filsafat pragmatisme?
3.      Apa kelemahan mengenai filsafat pragmatisme?
































 
BAB II PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pragmatisme
Sedangkan menurut bahasa adalah berasal dari bahasa Yunani “ Pragma” yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme sendiri berarti ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikran itu menuruti tindakan.[1]
Menurut Kamus Ilmiah Populer, Pragmatisme adalah aliran filsafat yang menekankan pengamatan penyelidikan dengan eksperimen (tindak percobaan), serta kebenaran yang mempunyai akibat–akibat yang memuaskan. Sedangkan, definisi Pragmatisme lainnya adalah hal mempergunakan segala sesuatu secara berguna.[2]
Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja hanya membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faedah atau manfaat. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works).
Kata pragmatisme sering sekali diucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini biasanya dalam pengertian praktis. Jika orang berkata, Rencana ini kurang pragmatis, maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dari pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tetapi belum menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme.
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua.

B.     Tokoh-tokoh Filsafat Pragmatisme
Filosuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey. Kedua tokoh filsafat pragmatisme mempunyai pendapat sendiri mengenai filsafat pragmatisme, yang akan dijelaskan di bawah ini.[3]
1.      William James
William James selain menamakan filsafatnya dengan “pragmatisme”, ia juga menamainya “empirisme radikal”.
Menurut William James, pragatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa yag benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan perantaraan yang akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu asal yang membawa akibat praktis, misalnya pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistik, semuanya bisa diterima sebagai kebenaran, dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat.[4]
Sedangkan empirisme radikal adalah suatu aliran yang harus tidak menerima suatu unsur alam bentuk apa pun yang tidak dialami secara langsung.
Dalam bukunya The Meaning of The Truth, James mengemukakan tidak ada kebenaran mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal, melainkan yang ada hanya kebenaran-kebenaran plural. Yang dimaksud kebenaran-kebenaran plural adalah apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.[5]
Menurut James, ada dua hal kebenaran yang pokok dalam filsafat yaitu Tough Minded dan Tender Minded. Tough Minded dalam mencari kebenaran hanya lewat pendekatan empirirs dan tergantung pada fakta-fakta yang dapat ditangkap indera. Sementara, Tender Minded hanya mengakui kebenaran yang sifatnya berada dalam ide dan yang bersifat rasional.
Menurut James, terdapat hubungan yang erat antara konsep pragmatisme mengenai kebenaran dan sumber kebaikan. Selama ide itu bekerja dan menghasilkan hasil-hasil yang memuaskan maka ide itu bersifat benar. Suatu ide dianggap benar apabila dapat memberikan keuntungan kepada manusia dan yang dapat dipercayai tersebut membawa kearah kebaikan.
Disamping itu pula, William James mengajukan prinsip-prinsip dasar terhadap pragmatisme, sebagai berikut:[6]
a.       Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tak dapat di prediksi tetapi dunia benar adanya.
b.      Bahwa kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide tetapi sesuatu yang terjadi pada ide-ide daam proses yang dipakai dalam situasi kehidupan nyata.
c.       Bahwa manusia bebas untuk meyakini apa yang menjadi keinginannya untuk percaya pada dunia, sepanjang keyakinannya tidak berlawanan dengan pengalaman praktisny maupun penguasaan ilmu pengetahuannya.
d.      Bahwa nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketentuan yang absolut, tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang dunia tempat kita tinggal didalamnya.

1.      John Dewey

 
John Dewey adalah seorang pragmatis, namun ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah Instrumentalis. Menurutnya, tujuan filsafat adalah untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk didunia dan sekarang. Tegasnya, tugas fiilsafat yang utama ialah memberikan garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tiada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman (experience), dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif kritis. Dengan demikian, filsafat akan dapat menyusun suatu system norma-norma dan nilai.[7]
Instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan penyimpulan
penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran berfungsi dalam penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman-penglaman yang berdasarkan pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.
Sehubungan hal diatas, menurut John Dewey, penyelidikan adalah transformasi yang terawasi atau terpimpin dari suatu keadaan yang tak menentu menjadi suatu keadaan yang tertentu. Oleh karena itu, penyelidakan dengan penilainnya adalah alat (instrumental) . jadi yang di maksud dengan instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam. Menurut Dewey, kita hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaanya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meniliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme. Yang diantaramya adalah:[8]
a.       Pertama, kata temporalisme yang berarti ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu.
b.      Kedua, kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin.
c.       Ketiga, milionarisme, berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dengan tenaga kita. Pandangan ini juga dianut oleh wiliam James.


























 
 

 
BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
Filosuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey.
Seperti dengan aliran-aliran filsafat pada umumnya, pragmatisme juga memiliki kekuatan dan kelemahan sehingga menimbulkan kritik-kritik terhadap aliran filsafat ini. Adapun kelemahan fisafat pragmatisme adalah, sebagai berikut:
1.      Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat metafisika dan kebenaran absolute (kebenaran tunggal).
2.      Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah sesuatu yang nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptkan pola pikir masyarakat yang matrealis.
3.      Untuk mencapai matrealismenya, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa memperdulikan lagi dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya.































 
DAFTAR PUSTAKA

Syadali, Ahmad,  filsafat umum, Bandung; CV Pustaka Setia,    
                1997.

Mudzakir, dkk., Filsafat Umum, CV. Pustaka Setia: Bandung. 1997.

Munir, Misnal, dkk, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2006.


[1] Munir, Misnal, dkk, Filsafat Ilmu, (Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2006), hal. 322
[2] Ahmad, Syadali, filsafat umum, (Bandung; CV Pustaka Setia, 1997), hal. 224
[3] Mudzakir, dkk., Filsafat Umum, (CV. Pustaka Setia: Bandung. 1997), hal. 210
[4] Munir, Misnal, dkk, Filsafat Ilmu, (Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2006), hal. 324
[5] Ibid., hal 325
[6] Ibid.,
[7] Ibid., 325
[8] Ibid.,

Pandangan Hidup




 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda berdasarkan nilai hidupnya serta pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup. Oleh karna itu pemakalah ingin menjelaskan apa iti pandangan hidup agar kita tidak salah dalam mengartikanya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pandangan hidup?
2.      Apakah cita-cita sama dengan pandangan hidup?
  

















 
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pandangan Hidup
Yang dimaksud pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atau bagaimana manusia memiliki konsepsi tentang kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda, maka timbulah pandangan hidu yang dikelompok-kelompokan, disebut aliran atau faham. Sebagai contoh, orang yang mengutamakan diri sendiri menimbulkan faham individualisme dan orang yang mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat menimbulkan faham sosialisme.[1]
Adapun penjelasan yang lain tentang pandangan hidup merupakan landasan dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Semua perbuatan tingkah laku dan aturan serta undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan. Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta kebenaran, sedangkan kebenaran daat dicapai oleh siapa saja. Hal ini mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.[2] 
Pandangan hidup yang diterima oleh sekelompok orang adalah pendukung suatu organisasi disebut ideologi. Pandangan hidup dapat menjadi  pegangan, bimbingan, tuntutan seorang ataupun masyarakat dalam menempuh jalan hidupnya menuju tujuan akhir.[3]
Pandangan hidup juga tidak terlepas dari masalah nilai dalam kehidupan manusia pada umumnya. Oleh karna itu, pandangan hidup yang sempurna merupakan wujud pertama kebudanyaan yang tidak boleh terlepas dari nilai budaya. C. Kluckhon dalam karyanya variatios in value orientation pada 1961 mengemukakan adanya lima masalah dasar manusia, yaitu: manusia dan hidup, manusia dan karya, manusia dan waktu, manusia dan alam, manusia dan sesama manusia. Berdasarkan nilai hidupnya eduard spranger membagi manusia dalam enam tipe, yaitu: manusia ekonomi, politik, sosial, pengetahuan, seni, dan agamaa.[4]
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup.[5] Adapun penjelasan pandangan hidup yang terdiri atas cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup, diantaranya:

1.      Cita-cita
Cita-cita adalah perasaan hati atau suatu keinginan di dalam hati, sering sekali diartikan sebagai angan-angan, keinginan, kemauan, niat, dan harapan. Cita-cita penting bagi manusia, karna danya cita-cita menandakan kedinamikan seseorang.[6]
Sejak bayi lahir atau dalam kandungan, orang tua telah mencita-citakan agar anaknya kelak menjadi ini atau itu, sesuai dengan keinginan orang tuanya. Apakah keinginan orang tua itu kelak terwujud atau tidak, bergantung kepada berkembangan dan lingkungan. Yang jelas, begitu bayi lahir ayah ibunya menimang-nimang agar kelak anaknya menjadi dokter, insinyur, jendral, gubernur dan sebagainya.[7]

 
Ada dua kategori keadaan hati seseorang, yaitu kuat dan lemah. Orang yang berhati keras biasanya tidak berhenti berusahasebelum cita-citanya tercapai serta ia tidak menghiraukan rintangan, tantanga, dan segala kesulitan yang dihadapinya. Orang yang berhati kuat  akan mencapai hasil yang gemilang dan sukses dalam hidupnya. Sedangkan yang berhati lemah, mudah terpengaruholeh situasi dan kondisi. Bila menghadapi kesulitan cepat-cepat mengganti halauan atau berganti keinginan.[8]
Cita-cita tidak sama dengan pandangan hidup. Sekalipun demikian, cita-cita erat kaitannya dengan pandangan dup. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan citra individu maupun masyarakat, selain itu juga mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.[9]

2.      Kebajikan
Kebajikan merupakan kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakikatnya sama dengan perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika. Jadi, kebijakan adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat, dan hukum tuhan.[10]
Baik buruk kebijakan dan ketidak bijakan menimbulkan daya kreativitas bagi manusia. namun ada pula kebijakan semu, yaitu kejahatan yang menyelubungi kebajikan. Kebajikan semu itu berbahaya karna pelakunya orang-orang munafik yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri[11]

3.      Sikap hidup

 
Sikap hidup adalah hati dalam menghadapi hidup di dunia. Sikap itu dalam hati dan hanya kitalah yang tahu  sadangkan orang lain mmengetahui setelah kita bertindak. Setiap manusia mempunyai sikap yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Sikap dapat dibentuk sesuai dengan kemauan yang membentuknya. Pembentukan sikap terjadi melalui pendidikan seperti halnya seorang militer bersikap tegas, berdisiplin tinggi, bersikap kesatria. Karna dalam kemiliteran ia dididik ke arah sikap itu. Sikap dapat juga berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan.[12] 
Dalam menghadapi kehidupan, setiap orang harus menghadapi orang lain atau kelompok masyarakat dengan sikap etis atau nonetis. Sikap etis disebut juga sikap positif sedangkan sikap nonetis ddisebut juga negatif. Ada tujuh sikap etis, yaitu: sikap lincah, sikap tenang, sikap harus, sikap berani, sikap arif, sikap rendah hati, dan sikap bangga.[13]
Sikap nonetis yaitu sikap kaku, sikap kasar, sikap takut, sikap angkuh, sikap gugup, dan sikap rendah diri. Sikap-sikap itu harus dijauhkan dari diri pribadi masing-masing maupun kemajuan bangsa. Sikap manusia bukanlah suatu konstur yang berdiri sendiri, tetapi paling tidak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konstruk-konstruk lain seperti dorongan, motivasi, atau bahkan dengan nilai-nilai tertentu.[14]


















 
 

 
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Yang dimaksud pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atau bagaimana manusia memiliki konsepsi tentang kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda, maka timbulah pandangan hidu yang dikelompok-kelompokan, disebut aliran atau faham.
Cita-cita tidak sama dengan pandangan hidup. Sekalipun demikian, cita-cita erat kaitannya dengan pandangan dup. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan citra individu maupun masyarakat, selain itu juga mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.



















 
DAFTAR PUSTAKA

Mawardi, IAD-ISD-IBD, Bandung: CV Pustaka Setia, 2007.

Mustofa, Ahmad, IBD (Ilmu Budaya Dasar), Bandung: CV pustaka setia, 1999.

Sanuri, Muhammad Ilmu Budaya Dasar, Surakarta: UNS, 1995.


[1] Ahmad, mustofa, IBD (Ilmu Budaya Dasar), (Bandung: CV pustaka setia, 1999), hal. 113

[2] Mawardi, IAD-ISD-IBD, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2007), hal. 177
[3] Muhammad, Sanuri, Ilmu Budaya Dasar, (Surakarta: UNS, 1995), hal. 65
[4] Ahmad, mustofa, Op. Cit., hal. 114
[5] Ibid., hal. 115
[6] Ibid., hal. 115
[7] Ibid., hal. 115
[8] Ibid., hal. 116-117
[9] Muhammad Sanuri, Op. Cit., hal. 178
[10] Ahmad, mustofa, Op. Cit., hal. 117
[11]Ibid., hal. 118
[12] Ibid., hal. 118-119
[13] Ibid., hal. 119
[14] Ibid., hal. 119-120