Senin, 26 September 2016

Pandangan Hidup




 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda berdasarkan nilai hidupnya serta pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup. Oleh karna itu pemakalah ingin menjelaskan apa iti pandangan hidup agar kita tidak salah dalam mengartikanya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pandangan hidup?
2.      Apakah cita-cita sama dengan pandangan hidup?
  

















 
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pandangan Hidup
Yang dimaksud pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atau bagaimana manusia memiliki konsepsi tentang kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda, maka timbulah pandangan hidu yang dikelompok-kelompokan, disebut aliran atau faham. Sebagai contoh, orang yang mengutamakan diri sendiri menimbulkan faham individualisme dan orang yang mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat menimbulkan faham sosialisme.[1]
Adapun penjelasan yang lain tentang pandangan hidup merupakan landasan dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Semua perbuatan tingkah laku dan aturan serta undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan. Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta kebenaran, sedangkan kebenaran daat dicapai oleh siapa saja. Hal ini mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.[2] 
Pandangan hidup yang diterima oleh sekelompok orang adalah pendukung suatu organisasi disebut ideologi. Pandangan hidup dapat menjadi  pegangan, bimbingan, tuntutan seorang ataupun masyarakat dalam menempuh jalan hidupnya menuju tujuan akhir.[3]
Pandangan hidup juga tidak terlepas dari masalah nilai dalam kehidupan manusia pada umumnya. Oleh karna itu, pandangan hidup yang sempurna merupakan wujud pertama kebudanyaan yang tidak boleh terlepas dari nilai budaya. C. Kluckhon dalam karyanya variatios in value orientation pada 1961 mengemukakan adanya lima masalah dasar manusia, yaitu: manusia dan hidup, manusia dan karya, manusia dan waktu, manusia dan alam, manusia dan sesama manusia. Berdasarkan nilai hidupnya eduard spranger membagi manusia dalam enam tipe, yaitu: manusia ekonomi, politik, sosial, pengetahuan, seni, dan agamaa.[4]
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup.[5] Adapun penjelasan pandangan hidup yang terdiri atas cita-cita, kebijakan, dan sikap hidup, diantaranya:

1.      Cita-cita
Cita-cita adalah perasaan hati atau suatu keinginan di dalam hati, sering sekali diartikan sebagai angan-angan, keinginan, kemauan, niat, dan harapan. Cita-cita penting bagi manusia, karna danya cita-cita menandakan kedinamikan seseorang.[6]
Sejak bayi lahir atau dalam kandungan, orang tua telah mencita-citakan agar anaknya kelak menjadi ini atau itu, sesuai dengan keinginan orang tuanya. Apakah keinginan orang tua itu kelak terwujud atau tidak, bergantung kepada berkembangan dan lingkungan. Yang jelas, begitu bayi lahir ayah ibunya menimang-nimang agar kelak anaknya menjadi dokter, insinyur, jendral, gubernur dan sebagainya.[7]

 
Ada dua kategori keadaan hati seseorang, yaitu kuat dan lemah. Orang yang berhati keras biasanya tidak berhenti berusahasebelum cita-citanya tercapai serta ia tidak menghiraukan rintangan, tantanga, dan segala kesulitan yang dihadapinya. Orang yang berhati kuat  akan mencapai hasil yang gemilang dan sukses dalam hidupnya. Sedangkan yang berhati lemah, mudah terpengaruholeh situasi dan kondisi. Bila menghadapi kesulitan cepat-cepat mengganti halauan atau berganti keinginan.[8]
Cita-cita tidak sama dengan pandangan hidup. Sekalipun demikian, cita-cita erat kaitannya dengan pandangan dup. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan citra individu maupun masyarakat, selain itu juga mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.[9]

2.      Kebajikan
Kebajikan merupakan kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakikatnya sama dengan perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika. Jadi, kebijakan adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat, dan hukum tuhan.[10]
Baik buruk kebijakan dan ketidak bijakan menimbulkan daya kreativitas bagi manusia. namun ada pula kebijakan semu, yaitu kejahatan yang menyelubungi kebajikan. Kebajikan semu itu berbahaya karna pelakunya orang-orang munafik yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri[11]

3.      Sikap hidup

 
Sikap hidup adalah hati dalam menghadapi hidup di dunia. Sikap itu dalam hati dan hanya kitalah yang tahu  sadangkan orang lain mmengetahui setelah kita bertindak. Setiap manusia mempunyai sikap yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Sikap dapat dibentuk sesuai dengan kemauan yang membentuknya. Pembentukan sikap terjadi melalui pendidikan seperti halnya seorang militer bersikap tegas, berdisiplin tinggi, bersikap kesatria. Karna dalam kemiliteran ia dididik ke arah sikap itu. Sikap dapat juga berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan.[12] 
Dalam menghadapi kehidupan, setiap orang harus menghadapi orang lain atau kelompok masyarakat dengan sikap etis atau nonetis. Sikap etis disebut juga sikap positif sedangkan sikap nonetis ddisebut juga negatif. Ada tujuh sikap etis, yaitu: sikap lincah, sikap tenang, sikap harus, sikap berani, sikap arif, sikap rendah hati, dan sikap bangga.[13]
Sikap nonetis yaitu sikap kaku, sikap kasar, sikap takut, sikap angkuh, sikap gugup, dan sikap rendah diri. Sikap-sikap itu harus dijauhkan dari diri pribadi masing-masing maupun kemajuan bangsa. Sikap manusia bukanlah suatu konstur yang berdiri sendiri, tetapi paling tidak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konstruk-konstruk lain seperti dorongan, motivasi, atau bahkan dengan nilai-nilai tertentu.[14]


















 
 

 
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Yang dimaksud pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atau bagaimana manusia memiliki konsepsi tentang kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda, maka timbulah pandangan hidu yang dikelompok-kelompokan, disebut aliran atau faham.
Cita-cita tidak sama dengan pandangan hidup. Sekalipun demikian, cita-cita erat kaitannya dengan pandangan dup. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan citra individu maupun masyarakat, selain itu juga mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.



















 
DAFTAR PUSTAKA

Mawardi, IAD-ISD-IBD, Bandung: CV Pustaka Setia, 2007.

Mustofa, Ahmad, IBD (Ilmu Budaya Dasar), Bandung: CV pustaka setia, 1999.

Sanuri, Muhammad Ilmu Budaya Dasar, Surakarta: UNS, 1995.


[1] Ahmad, mustofa, IBD (Ilmu Budaya Dasar), (Bandung: CV pustaka setia, 1999), hal. 113

[2] Mawardi, IAD-ISD-IBD, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2007), hal. 177
[3] Muhammad, Sanuri, Ilmu Budaya Dasar, (Surakarta: UNS, 1995), hal. 65
[4] Ahmad, mustofa, Op. Cit., hal. 114
[5] Ibid., hal. 115
[6] Ibid., hal. 115
[7] Ibid., hal. 115
[8] Ibid., hal. 116-117
[9] Muhammad Sanuri, Op. Cit., hal. 178
[10] Ahmad, mustofa, Op. Cit., hal. 117
[11]Ibid., hal. 118
[12] Ibid., hal. 118-119
[13] Ibid., hal. 119
[14] Ibid., hal. 119-120

Tidak ada komentar:

Posting Komentar