Minggu, 15 November 2015

MSI (penjelasan agama dan kebudanyaan pra islam)

BAB I PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Masalah Sebagaimana agama terakhir, Islam di ketahui memiliki karakteristik yang khas di bandingkan dengan agama-agama sebelumnya. Melalui berbagai linteratur yang berbicara tentang islam dapat di jumpai uraian mengenai pengertian agama Islam, berbagai aspek yang berkenaan dengan Islam itu perlu di kaji secara seksama, Sehingga dapat dihasilkan pemahaman Islam yang komprahensip.
Hal ini perlu dilakukan, karena kualitas pemahaman ke-Islaman seseorang akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan tindakan ke-Islaman yang bersangkutan. Kita barang kali sepakat terhadap kualitas ke-Islaman seseorang benar-benar komprahenship dan berkualitas. Yang selalu akan menjadi pegangan dasar etik ini satu-satunya ialah keuntungan. Sementara arti perikemanusiaan yang tinggi, prinsip-prinsip akhlak yang terpuji, altruisma, cinta kasih dan persaudaraan akan jatuh tergelincir, dan hampir-harnpir sudah tak dapat dipegang lagi.
Pada menjelang akhir abad ke-20 ini kita telah dapat menyaksikan - dan masih dapat kita saksikan adanya bukti-bukti, bahwa perdamaian di muka bumi dengan dasar kebudayaan yang semacam ini hanya dalam impian saja dapat dilaksanakan, hanya dalam cita-cita yang manis bermadu, tetapi dalam kenyataannya tiada lebih dari suatu fatamorgana yang kosong belaka.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian agama?
2.      Sebutkan empat patung yang terkenal?
3.      Apakah sifat-sifat yang dimiliki masyarakat pra-islam?





BAB II PEMBAHASAN

A.    Pengertian agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadahan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta agama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti mengikat kembali. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll.
Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu:
1)      menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan
2)      menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari tuhan
Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat tiga unsur yaitu manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

B.     Kebudayaan pra-islam
Mengkaji tentang Islam akan lebih sempurna bila kita mengkaji Arab pra-Islam terlebih dahulu, karena Islam lahir di tengah-tengah masyarakat Arab yang sudah mempunyai adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah perkembangan masyarakat Arab dalam kenyataannya tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam. Bangsa Arab adalah suatu bangsa yang diasuh dan dibesarkan oleh Islam dan sebaliknya Islam didukung dan dikembangluaskan oleh bangsa Arab. Islam cepat tersiar dan tersebar luas ke penjuru dunia, berkat peranan bangsa Arab yang menjadi jalur penting bagi lalu lintas perdagangan.
Jazirah Arab adalah tempat lahirnya agama Islam dan kemudian menjadi pusat Islam, merupakan pusat dari peradaban dan kebudayaan Islam. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan bangsa Arab sampai menjadi bangsa yang besar, kuat dan bersatu adalah berkat kesetiaan dan keikhlasannya terhadap Islam. Pada masa Arab pra-Islam Mekah bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut asli Mekah tetapi juga orang-orang Yahudi yang bermukim di sekitarnya[1].
Sebelum agama Islam datang, ada beragam agama dan kepercayaan yang dianut bangsa Arab. Agama tauhid, yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Agama Hanif yaitu yang dibawa Nabi Ibrahim dan puteranya Nabi Ismail termasuk dalam agama ini. Hanif artinya orang-orang Arab yang selama zaman jahiliyah tetap dalam agama Nabi Ibrahim a.s dan tidak menyembah berhala. Tapi kepercayaan agama Tauhid ini lama kelamaan berubah menjadi penyembahan berhala.
Menurut riwayat Ibnu Khalbi dalam kitab as-Ashnam, perubahan kepercayaan ini terjadi karena adat bangsa Arab untuk membawa batu yang diambil dari sekeliling Ka’bah bila mereka akan meninggalkan kota Mekah. Hal tersebut mereka lakukan karena mereka mencintai kota Mekah dan Ka’bahnya. Di manapun mereka berada, batu yang mereka bawa dari sekeliling Ka’bah itu dipujanya sebagaimana mereka melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah. Maka penuhlah Ka’bah itu dengan berhala-berhala. Sebenarnya masih ada orang yang tetap mempercayai adanya Allah, tetapi terkontaminasi pada pemujaan berhala, sehingga mereka menjadikan berhala itu sebagai perantaranya.[2]
Menurut riwayat, dalam Ka’bah itu terdapat 360 buah patung yang bermacam-macam bentuk dan warna menurut kemauan masing-masing kabilah dan suku. Ada empat patung yang terkenal yaitu Lata yang dianggap dewa tertua terletak di Tsaqif, Uzza disembah oleh suku Quraisy, Manah disembah oleh suku Aus dan Khazraj atau Hubal yang dianggap dewa terbesar disembah oleh kabilah Khoziman. Patung-patung itu dihancurkan ketika Nabi Muhammad dan pengikutnya dapat menguasai kota Mekah dan memasuki Baitullah pada tanggal 20 Ramadhan 8 H. Setelah itu lenyaplah kepercayaan di Jazirah Arab.
Agama Ashabiah, yaitu kepercayaan dan penyembahan kepada benda-benda langit seperti bulan, bintang, dan matahari. Mereka menyembah benda-benda langit karena menurut mereka benda-benda langit yang mengatur alam yang luas ini. Agama ini mula-mula dianut oleh bangsa Arab Bani Qahthan pada masa kerajaan Saba’ di Yaman.
Agama Yahudi berasal dari syariat yang dibawa Nabi Musa a.s untuk Bani Israil. Meskipun agama Yahudi sudah masuk ke Jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka yaitu percaya kepada banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung (Badri Yatim, 2000: 15[3].
Sebagai manusia sudah pasti orang Arab pada zaman itu memiliki rasa iba dan kasih sayang kepada anak kandungnya. Tetapi sifat-sifat primitif mereka sebagai suku-suku pengembara, terlampau berlebihan dalam mendewa-dewakan harga diri, kehormatan dan nama baik keluarga kabilahnya. Kebiasaan membunuh anak perempuan karena takut lapar dan malu. Alasan mereka bahwa anak perempuan adalah biang dari petaka karena dari segi fisik perempuan lebih lemah dari pada laki-laki, ketika lemah secara otomatis akan menjadi batu sandungan bagi sang ayah atau ketua kelompok dan tidak bisa di ajak berperang.[4]
Anak perempuan akan mengurangi pengaruh kabilahnya dalam percaturan dunia, penghambat pembangunan, kurang bisa mandiri dan menggantungkan pada laki-laki, dan itu semua adalah aib bagi mereka. Maka kekurangan itu harus ditutupi dan kalau perlu dibuang. Anak laki-laki juga akan dibunuh jika dinilai mempunyai watak penakut dan pengecut. Mereka dipandang tidak akan sanggup dan berani membela kehormatan dan harga dirinya sendiri serta nama baik keluarga dan kabilahnya[5].
Dengan fenomena tersebut hak-hak perempuan tidak terpenuhi bahkan tidak akan terpenuhi. Penghormatan dan pengagungan kaum perempuan berubah menjadi pelecehan seksual dan psikologi. Peran perempuan dikerdilkan menjadi masak, macak, manak atau sebagai simbol seks dan pelestarian nasab[6].
Menurut D. De Lacy O’Leary bangsa Arab sangat materialistik, berpandangan sempit dan berperasaan beku, tetapi terlampau peka bila kehormatan, nama baik dan kebebasannya tersinggung. Mereka dermawan terhadap tamu-tamunya dan sangat setia kepada kabilahnya. Mereka membangga-banggakan adat istiadatnya sendiri dan mengagung-agungkan bahasa serta kesusastraannya[7].
Dari pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa dalam hal kepercayaan bangsa Arab pra-Islam juga ditentang Islam. Kebiasaan mereka menyembah sesuatu buatan mereka sendiri seperti patung atau menyembah matahari dan benda-benda lainnya yang mempunyai kelebihan. Tuhan itu hanya satu yaitu Allah, sedang benda-benda tersebut adalah ciptaan-Nya. Itu semua merupakan tanda-tanda kebesaran Allah.
Masyarakat Arab pra-Islam mempunyai dua sifat sekaligus yakni positif dan negatif. Mereka dipengaruhi dan dibentuk oleh situasi dan kondisi alam jazirah Arab. Manusia menurut alam kodratnya sendiri diciptakan Tuhan lengkap dengan unsur-unsur kemanusiaannya. Betapapun negatifnya sebagai sifat-sifat masyarakat bangsa Arab pra-Islam itu, mereka memiliki unsur-unsur dan sifat-sifat positif sebagaimana manusia.


















 


BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadahan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Menurut riwayat dalam Ka’bah itu terdapat 360 buah patung yang bermacam-macam bentuk dan warna menurut kemauan masing-masing kabilah dan suku. Ada empat patung yang terkenal yaitu Lata yang dianggap dewa tertua terletak di Tsaqif, Uzza disembah oleh suku Quraisy, Manah disembah oleh suku Aus dan Khazraj atau Hubal yang dianggap dewa terbesar disembah oleh kabilah Khoziman.
Masyarakat Arab pra-Islam mempunyai dua sifat sekaligus yakni positif dan negatif. Mereka dipengaruhi dan dibentuk oleh situasi dan kondisi alam jazirah Arab. Manusia menurut alam kodratnya sendiri diciptakan Tuhan lengkap dengan unsur-unsur kemanusiaannya. Betapapun negatifnya sebagai sifat-sifat masyarakat bangsa Arab pra-Islam itu, mereka memiliki unsur-unsur dan sifat-sifat positif sebagaimana manusia.






[1] Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta),  2009, hal-55
[2] Syukur H Fatah, Sejarah Peradaban Islam, PT Pustaka Rizki Putra, (Semarang), 2009, hal-17
[3] Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT Raja-Grafindo,  (Jakarta),  2004, hal-15
[4] Syukur fatah, Op.Cit., hal-21
[5] Ismail Faisal, Sejarah dan Kebudayaan Islam dari Zaman Permulaan hingga Zaman Khulafaurrasyidin, CV. Bina Usaha, (Yogyakarta), 1984, hal-5
[6] Syukur fatah, Op.Cit., hal-21
[7] Ismail faisal, Op.Cit., hal-5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar