A.
LATAR
BELAKANG
Masalah Sebagaimana agama terakhir, Islam di ketahui
memiliki karakteristik yang khas di bandingkan dengan agama-agama sebelumnya.
Melalui berbagai linteratur yang berbicara tentang islam dapat di jumpai uraian
mengenai pengertian agama Islam, berbagai aspek yang berkenaan dengan Islam itu
perlu di kaji secara seksama, Sehingga dapat dihasilkan pemahaman Islam yang
komprahensip.
Hal ini perlu dilakukan, karena kualitas pemahaman
ke-Islaman seseorang akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan tindakan ke-Islaman
yang bersangkutan. Kita barang kali sepakat terhadap kualitas ke-Islaman
seseorang benar-benar komprahenship dan berkualitas. Yang selalu akan menjadi
pegangan dasar etik ini satu-satunya ialah keuntungan. Sementara arti
perikemanusiaan yang tinggi, prinsip-prinsip akhlak yang terpuji, altruisma,
cinta kasih dan persaudaraan akan jatuh tergelincir, dan hampir-harnpir sudah
tak dapat dipegang lagi.
Pada menjelang akhir abad ke-20 ini kita telah dapat
menyaksikan - dan masih dapat kita saksikan adanya bukti-bukti, bahwa
perdamaian di muka bumi dengan dasar kebudayaan yang semacam ini hanya dalam
impian saja dapat dilaksanakan, hanya dalam cita-cita yang manis bermadu,
tetapi dalam kenyataannya tiada lebih dari suatu fatamorgana yang kosong
belaka.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian agama?
2.
Sebutkan empat patung yang terkenal?
3.
Apakah sifat-sifat yang dimiliki masyarakat
pra-islam?
A.
Pengertian agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadahan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan
pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Kata agama berasal dari bahasa
Sansekerta agama
yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep
ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar
pada kata kerja re-ligare yang berarti mengikat kembali. Maksudnya
dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Definisi
tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini
diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan
kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama
itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari
titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran
dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang
luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari
sumber yang luar biasa juga dan
sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya
sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, dan lain-lain atau hanya
menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De
Weldadige dll.
Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari
kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu:
2) menaati
segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari tuhan
Dengan demikian diperoleh keterangan yang
jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian
agama terdapat tiga unsur yaitu manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu
paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat
disebut agama.
B.
Kebudayaan pra-islam
Mengkaji
tentang Islam akan lebih sempurna bila kita mengkaji Arab pra-Islam terlebih
dahulu, karena Islam lahir di tengah-tengah masyarakat Arab yang sudah
mempunyai adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah
perkembangan masyarakat Arab dalam kenyataannya tidak dapat dilepaskan dari sejarah
perkembangan Islam. Bangsa Arab adalah suatu bangsa yang diasuh dan dibesarkan
oleh Islam dan sebaliknya Islam didukung dan dikembangluaskan oleh bangsa Arab.
Islam cepat tersiar dan tersebar luas ke penjuru dunia, berkat peranan bangsa
Arab yang menjadi jalur penting bagi lalu lintas perdagangan.
Jazirah
Arab adalah tempat lahirnya agama Islam dan kemudian menjadi pusat Islam,
merupakan pusat dari peradaban dan kebudayaan Islam. Sejarah menunjukkan bahwa
kemajuan bangsa Arab sampai menjadi bangsa yang besar, kuat dan bersatu adalah
berkat kesetiaan dan keikhlasannya terhadap Islam. Pada masa Arab pra-Islam
Mekah bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut asli Mekah tetapi juga
orang-orang Yahudi yang bermukim di sekitarnya[1].
Menurut
riwayat Ibnu Khalbi dalam kitab as-Ashnam, perubahan kepercayaan ini
terjadi karena adat bangsa Arab untuk membawa batu yang diambil dari sekeliling
Ka’bah bila mereka akan meninggalkan kota Mekah. Hal tersebut mereka lakukan
karena mereka mencintai kota Mekah dan Ka’bahnya. Di manapun mereka berada,
batu yang mereka bawa dari sekeliling Ka’bah itu dipujanya sebagaimana mereka
melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah. Maka penuhlah Ka’bah itu dengan
berhala-berhala. Sebenarnya masih ada orang yang tetap mempercayai adanya
Allah, tetapi terkontaminasi pada pemujaan berhala, sehingga mereka menjadikan
berhala itu sebagai perantaranya.[2]
Menurut
riwayat, dalam Ka’bah itu terdapat 360 buah patung yang bermacam-macam bentuk
dan warna menurut kemauan masing-masing kabilah dan suku. Ada empat patung yang
terkenal yaitu Lata yang dianggap dewa tertua terletak di Tsaqif,
Uzza disembah oleh suku Quraisy, Manah disembah
oleh suku Aus dan Khazraj atau Hubal yang dianggap
dewa terbesar disembah oleh kabilah Khoziman. Patung-patung itu dihancurkan
ketika Nabi Muhammad dan pengikutnya dapat menguasai kota Mekah dan memasuki
Baitullah pada tanggal 20 Ramadhan 8 H. Setelah itu lenyaplah kepercayaan di
Jazirah Arab.
Agama
Ashabiah, yaitu kepercayaan dan penyembahan kepada benda-benda langit seperti
bulan, bintang, dan matahari. Mereka menyembah benda-benda langit karena
menurut mereka benda-benda langit yang mengatur alam yang luas ini. Agama ini
mula-mula dianut oleh bangsa Arab Bani Qahthan pada masa kerajaan Saba’ di
Yaman.
Sebagai
manusia sudah pasti orang Arab pada zaman itu memiliki rasa iba dan kasih
sayang kepada anak kandungnya. Tetapi sifat-sifat primitif mereka sebagai
suku-suku pengembara, terlampau berlebihan dalam mendewa-dewakan harga diri,
kehormatan dan nama baik keluarga kabilahnya. Kebiasaan membunuh anak perempuan
karena takut lapar dan malu. Alasan mereka bahwa anak perempuan adalah biang
dari petaka karena dari segi fisik perempuan lebih lemah dari pada laki-laki,
ketika lemah secara otomatis akan menjadi batu sandungan bagi sang ayah atau
ketua kelompok dan tidak bisa di ajak berperang.[4]
Anak
perempuan akan mengurangi pengaruh kabilahnya dalam percaturan dunia,
penghambat pembangunan, kurang bisa mandiri dan menggantungkan pada laki-laki,
dan itu semua adalah aib bagi mereka. Maka kekurangan itu harus ditutupi dan
kalau perlu dibuang. Anak laki-laki juga akan dibunuh jika dinilai mempunyai
watak penakut dan pengecut. Mereka dipandang tidak akan sanggup dan berani
membela kehormatan dan harga dirinya sendiri serta nama baik keluarga dan
kabilahnya[5].
Dengan
fenomena tersebut hak-hak perempuan tidak terpenuhi bahkan tidak akan
terpenuhi. Penghormatan dan pengagungan kaum perempuan berubah menjadi
pelecehan seksual dan psikologi. Peran perempuan dikerdilkan menjadi masak, macak,
manak atau sebagai simbol seks dan pelestarian nasab[6].
Dari
pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa dalam hal kepercayaan
bangsa Arab pra-Islam juga ditentang Islam. Kebiasaan mereka menyembah sesuatu
buatan mereka sendiri seperti patung atau menyembah matahari dan benda-benda
lainnya yang mempunyai kelebihan. Tuhan itu hanya satu yaitu Allah, sedang
benda-benda tersebut adalah ciptaan-Nya. Itu semua merupakan tanda-tanda
kebesaran Allah.
Masyarakat
Arab pra-Islam mempunyai dua sifat sekaligus yakni positif dan negatif. Mereka dipengaruhi dan
dibentuk oleh situasi dan kondisi alam jazirah Arab. Manusia menurut alam
kodratnya sendiri diciptakan Tuhan lengkap dengan unsur-unsur kemanusiaannya.
Betapapun negatifnya sebagai sifat-sifat masyarakat bangsa Arab pra-Islam itu,
mereka memiliki unsur-unsur dan sifat-sifat positif sebagaimana manusia.
A.
Kesimpulan
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadahan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan
pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Menurut riwayat dalam Ka’bah itu terdapat 360
buah patung yang bermacam-macam bentuk dan warna menurut kemauan masing-masing
kabilah dan suku. Ada empat patung yang terkenal yaitu Lata yang
dianggap dewa tertua terletak di Tsaqif, Uzza disembah oleh suku
Quraisy, Manah disembah oleh suku Aus dan Khazraj
atau Hubal yang dianggap dewa terbesar disembah oleh kabilah
Khoziman.
Masyarakat
Arab pra-Islam mempunyai dua sifat sekaligus yakni positif dan negatif. Mereka dipengaruhi dan
dibentuk oleh situasi dan kondisi alam jazirah Arab. Manusia menurut alam
kodratnya sendiri diciptakan Tuhan lengkap dengan unsur-unsur kemanusiaannya.
Betapapun negatifnya sebagai sifat-sifat masyarakat bangsa Arab pra-Islam itu,
mereka memiliki unsur-unsur dan sifat-sifat positif sebagaimana manusia.
[5] Ismail Faisal, Sejarah dan Kebudayaan Islam dari Zaman Permulaan
hingga Zaman Khulafaurrasyidin, CV. Bina Usaha, (Yogyakarta), 1984, hal-5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar