MAKALAH
KONSEP ASWAJA DALAM EKONOMI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Ahlussunnah
Wajama’ah (ASWAJA) Fakultas Ekonomi Syaria’ah Semester 1 (satu)
Dosen Pengampu: Drs. H. Ihwanuddin, M.Kom.I

Disusun oleh :
Nama :
Abi Wisnu Ubaidilah
Npm :
15130001
Prodi : Perbankan Syariah
(PBS)
KATA PENGANTAR
Assalamualalaikum wr. wb
Alhamdulillah,
segala puji dan syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semua dan khususnya kepada saya
sehingga dapat menyelesaikan tugas kelompok
(MAKALAH) Mata Kuliah ASWAJA. Sholawat serta salam tetap tercurahkan
kepada Uswatun Hasanah kita yaitu Nabiullah Muhammad SAW yang kita
nanti-nantikan syafa’atnya diyaumul akhir nanti. Dan semoga kita termasuk dari
umatnya yang akan mendapatkan syafa’atnya.
Ucapan terimakasih
kami hanturkan kepada Drs. H. Ihwanuddin, M.Kom.I, Selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah ASWAJA yang
telah memberikan bimbingannya kepada kami sehingga bisa terselesaikannya dengan
pokok bahasan yaitu “KONSEP ASWAJA DALAM EKONOMI”, saya menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan tentunya perlu ada
yang harus di perbaiki.
Oleh karena itu, saran dan bimbingan dari para pembaca yang sifatnya
membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan pembuatan makalah ini dan
semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wassalammu’alaikum wr. wb
Metro, 15 Desember 2015
Pemakalah
Abi wisnu ubaidilah
Npm. 15130001
|
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang 1
B.
Rumusan masalah 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Konsep Aswaja
Tentang Ekonomi 2
B.
Analisis 3
BAB III KESIMPULAN
A. Kesimpulan 4
DAFTAR PUSTAKA iv
|
|
A.
Latar
Belakang
Ekonomi dalam
aswaja memilih jalan keadilan dalam mencapai kesejahteraan sosial. Bahwa
kesejahteraan sosial yang tercapai haruslah dibangun di atas landasan keadilan.
Dus, Ekonomi aswaja, sebagaimana Islam, memiliki sikap yang moderat (wasthiyyah).
Ia tidak menzalimi kaum lemah sebagaimana terjadi pada masyarakat kapitalis,
tetapi juga tidak menzalimi hak individu dan kelompok kaya sebagaimana ada pada
sistem sosialisme-komunisme. Ekonomi Islam berada pada posisi tengah dan
seimbang (equilibrium) antara modal dan usaha, produksi dan konsumsi,
dan masalah pendapatan.
Beragam kebutuhan umat
tidak lagi dapat dipenuhi oleh fasilitas hidup seadanya yang tersedia di
lingkungan. Meningkatnya beragam kebutuhan menjadi pertanda berkembangnya
budaya warga yang membutuhkan perimbangan sarana untuk memenuhinya.
Tingkat pemenuhan kebutuhan sudah menjadi gaya hidup (life style) yang
tidak lagi dapat dihindari, selain menjadi symbol status sosial (social
stratification) juga menjadi pertanda bahwa kesejahteraan warga
telah ada perkembangan.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang diperlukan
ekonomi islam dalam mengatasi globalisasi?
2.
Apa
permasalahan dalam berekonomi di masyarakat?
|
|
A.
Konsep
Aswaja Tentang Ekonomi
Dalam konsep aswaja
tentang ekonomi, Islam menganjurkan kepada setiap umatnya untuk selalu giat
dalam bekerja dimanapun berada seperti Firman Allah yang berbunyi. “Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah
dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu
akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Q.S.
At-Taubah: 105)[1].
Karena kerja membawa
pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw: “Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan
karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan”.
(HR.Thabrani dan Baihaqi).
Segala aturan yang
diturunkan Allah SWT. dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan,
kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan
kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya
adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.[2]
Beragam kebutuhan umat
tidak lagi dapat dipenuhi oleh fasilitas hidup seadanya yang tersedia di
lingkungan. Meningkatnya beragam kebutuhan menjadi pertanda berkembangnya
budaya warga yang membutuhkan perimbangan sarana untuk memenuhinya.
Tingkat pemenuhan kebutuhan sudah menjadi gaya hidup (life style) yang
tidak lagi dapat dihindari, selain menjadi symbol status sosial (social
stratification) juga menjadi pertanda bahwa kesejahteraan warga
telah ada perkembangan. Agar tidak terjadi kesenjangan budaya (cultural
gap) diperlukan strategi bagaimana harus mengonsumsinya sehingga
membutuhkan sikap dan pengetahuan tentang berbudaya yang maju serta tidak
mengabaikan aturan dan norma sosial keagamaan(syariat).[3]
Tuntutan perbaikan
hidup tidak terlepas dari keinginan warga untuk memperbaiki kondisi
perekonomian. Naluri ekonomi warga senantiasa tertantang untuk menangkap setiap
peluang ekonomi yang dapat mendatangkan manfaat yang berakhir dengan
peningkatan kesejahteraan (taraf hidup). Permasalahannya adalah bagaimana
warga dapat merasa ‘enjoy’ dalam mengembangkan usaha tanpa harus
dihadapkan dengan kendala hukum syariat, sementara pekerjaan sudah
menunggu untuk berkompetisi dengan pihak lain. Dibutuhkan dukungan sikapenterpreneurship yang
tinggi serta ‘kenyamanan’ berusaha baik secara material maupun immaterial untuk
dapat merubah kualitas hidup warga.
B. Analisis
Dalam ekonomi beraswaja
itu sangat penting karna Beragam kebutuhan umat tidak lagi dapat dipenuhi
oleh fasilitas hidup seadanya yang tersedia di lingkungan. Meningkatnya beragam
kebutuhan menjadi pertanda berkembangnya budaya warga yang membutuhkan
perimbangan sarana untuk memenuhinya. Untuk memenuhi kebutuhan kita harus kerja
Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad
saw: “Barang siapa diwaktu sorenya
kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan”.
(HR.Thabrani dan Baihaqi).
|
|
A.
Kesimpulan
Kepentingan
ekonomi meningkatnya perdagangan bebas
dan meningkatnya hubungan antara pelaku ekonomi di pelbagai negara. Didorong
oleh dasar domestik dan antarabangsa sesebuah negara yang membuka pintu
perdagangan kepada negara luar.
Meningkatkan jaringan hubungan perdagangan dan pelaburan kewangan
antarabangsa - perkembangan teknologi dan peluang ekonomi yang wujud dalam
sesebuah negara. Negara perlu memiliki kelebihan bersaing (competitive edge)
dalam pasaran antarabangsa bagi memastikan negara mampu berhadapan dengan
cabaran persaingan ekonomi sejagat yang semakin meningkat. Serta meningkatkan
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negara.
Permasalahannya
adalah bagaimana warga dapat merasa ‘enjoy’ dalam
mengembangkan usaha tanpa harus dihadapkan dengan kendala hukum syariat,
sementara pekerjaan sudah menunggu untuk berkompetisi dengan pihak lain.
Dibutuhkan dukungan sikapenterpreneurship yang tinggi serta
‘kenyamanan’ berusaha baik secara material maupun immaterial untuk dapat
merubah kualitas hidup warga.
[1] Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahannya. (Jakarta:
Pustaka Amani).
[2] Ibnu soim. http://ibnu-soim.blogspot.co.id/2012/12/konsep-aswaja-tentang-ekonomi.html.
[3] affan. http://aswajacenterpati.wordpress.com/2012/04/02/reformulasi-aswaja-sebagai-manhajul-fikr-manhajul-amal/.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama. 2005. Al-Qur’an
dan Terjemahannya. Jakarta: Pustaka Amani.
Abdussalam, S.E.I. januari 2015. http://www.aswj-rg.com/2015/01/ekonomi-islam-perbandingan
nya-dengan-sistem-kapitalisme-dan-sosialisme.html. Dsember 2015.
.
Ibnu soim. Desember
2012. http://ibnu-soim.blogspot.co.id/2012/12/konsep-aswaja-tentang-ekonomi.html. desember
2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar