BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Yang dimaksud dengan dakwah adalah
mengajak orang-orang yang belum mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat
yang berhak diibadahi dan Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah.
Karena orang-orang kafir itu adalah orang yang
belum mengakui Islam sabagai satu-satunya agama, mereka adalah orang-orang yang
sesat dan munkar, maka umat Islam wajib untuk mengajak mereka kepada Islam.
Islam harus disiarkan ke seluruh
penjuru dunia, agar semua manusia hanya mengabdi kepada Allah semata dan
mengeluarkan manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia lainnya, serta
menghilangkan segala bentuk tindak kerusakan dan kejahatan di muka bumi ini.
Jika daulah telah berdiri, dan sudah memiliki kekuatan militer, maka seruan
jihadlah yang berlaku.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dakwah?
2.
Sebutkan
sifat-sifat rosul?
3.
Apakah
syarat-syarat bagi orang yang mengajak kebaikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dakwah Dalam Aswaja
Telah kita ketahui bersama, dakwah
merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim baik laki-laki
maupun perempuan. Tidak boleh seorang pun dari muslim dan muslimah
menghindarkan diri dari padanya. Secara garis besar, dakwah dapat dilakukan secara
individu maupun berjamaah.
Dakwah
secara individu dapat dilakukan oleh setiap muslim karena dakwah dengan metode
ini tidak memerlukan sistem, organisasi, metode, manajemen tertentu. Dakwah
dapat dilakukan dengan mengajak kepada kebaikan, saling menasihati, dan
sebagainya kepada setiap orang, baik keluarga, kerabat, teman, maupun orang
lain. [1]
DakwahBerjamaah Allah SWT berfirman:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada
kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah
orang-orang yang beruntung (Q.S. Ali Imran : 104).
Ayat ini
merupakan perintah Allah yang mengharuskan agar di antara kita terdapat
sekelompok orang (jamaah) yang menyuruh kepada perbuatan baik dan mencegah
perbuatan munkar. Kewajiban tersebut dibebankan hanya kepada orang-orang yang
mempunyai kemampuan untuk melakukannya (fardlu kifayah). Di ayat lain Allah
mengecam suatu masyarakat atau bangsa yang di dalamnya tidak terdapat orang
yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Al-Faqih berkata, “Orang yang menyuruh kebaikan itu
harus memenuhi tiga syarat
yaitu:
1. Mempunyai
ilmu. Orang yang bodoh tidak layak untuk mengajak kepada kebaikan. Dalam bertindak ia hanya mempunyai
tujuan karena Allah dan demi kemuliaan agama.
2. Bersikap ramah dan sayang kepada
orang yang diajak berbuat baik, menjauhkan diri dari sifat kasar dan bengis
sebagaimana pesan Allah Ta'ala,
"Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lembut." (QS. Thoha : 44)
"Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lembut." (QS. Thoha : 44)
3. Mempunyai sifat sabar dan penyantun.
Allah berfirman: "Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu." (QS. Luqman : 17)
B. Pemahaman Dakwah Rosulullah
Adapun
hal-hal yang wajib dipahami dan diteladani oleh setiap muslim dalam
aktivitasnya sebagai seorang pengemban dakwah, di antaranya :
1. Sifat-Sifat Para Nabi
Sebagai seorang muslim, apalagi
sebagai seorang pengemban dakwah, seharusnya membekali dirinya dengan
sebaik-baiknya. Dia harus berusaha untuk mensuriteladani sifat-sifat
yang ada pada diri para nabi. Diantaranya:[2]
a) Jujur
(ash-shidqu)
Nabi SAW bersabda: "Buatkanlah
jaminan enam hal kepadaku tentang dirimu, maka aku akan menjamin kamu masuk
surga, yaitu: jujurlah jika kamu berkata; tepatilah jika kamu berjanji;
tunaikanlah jika kamu dipercaya; peliharalah kehormatanmu, pejamkan matamu; dan
jagalah kedua tanganmu."
Hadits ini
mengandung makna jujur dalam perkataan yang di dalamnya termasuk pula kalimat
tauhid dan lainnya. Bila seseorang telah bersaksi bahwa tiada illah selain
Allah dan Muhammad adalah Rasulullah maka ia harus jujur terhadap dirinya
maupun orang lain. Ia harus menyesuaikan apa yang dikatakan dengan apa yang
diperbuat.
b) Dapat
Dipercaya ( Al-Amaanah )
Menunaikan
apa yang dipercayakan kepadanya mengandung dua pengertian, yaitu amanah antara
dirinya dengan Allah dan amanah antara dirinya dengan manusia. Menunaikan
amanah Allah ditempuh dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan
menjauhi larangan-Nya. Sedangkan menunaikan amanah manusia ditempuh dengan cara
menjaga apa yang dipercayakan kepadanya.
c) Menyampaikan
( At-Tabligh )
Rasulullah
selalu menyampaikan apa yang diwahyukan kepadanya kepada umatnya. Tidak ada
satu pun wahyu yang tidak disampaikan apalagi disembunyikan. Karena takut kepada
Allah, menjelang ajal beliau berkhotbah pada haji Wada'. Beliau meminta
kesaksian kepada umatnya, "Apakah aku sudah menyampaikan?" Umatnya
menjawab, "Shodaqta, qod balaghta (benar, engkau telah
menyampaikan)." Rasulullah berseru, "Wahai Tuhanku, persaksikanlah."
Sebagian kaum muslimin yang telah
mengabdikan dirinya sebagai pengemban dakwah hendaklah berusaha untuk
menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan benar, tidak disembunyikan, apalagi
jika ada yang memintanya karena hukum menyembunyikan ilmu jika diminta adalah
dosa besar.
d) Cerdas
(Al-Fathoonah)
Sudah kita ketahui bersama, meskipun
Rasulullah adalah seorang nabi yang ummi, beliau termasuk nabi yang sangat
cerdas, baik cerdas dalam sisi intelektualnya maupun cerdas dalam menyusun
strategi dakwahnya sehingga hanya dalan waktu 23 tahun beliau mampu menancapkan
bendera Islam di belahan dunia ini. Dalam berbagai riwayat disebutkan,
bagaimana beliau menyusun strategi perang, memotivasi kaum muslimin dan
sebagainya. Bagaimana beliau tetap bersikap sabar, kasih sayang, dan tidak
pernah memendam dendam terhadap kaum yang lain .
e) Kemaksuman
('Ismah )
Kemasukman
('Ismah ) adalah bebas dari kesalahan/dosa-dosa baik besar maupun kecil.
Rasulullah merupakan manusia maksum yang berarti bahwa beliau terbebas dari kesalahan
terutama dalam menyampaikan risalah Allah. Apa yang diperbuat, dikatakan, dan
didiamkan Rasul semata-mata adalah wahyu dari Allah.
Sifat 'ismah
ini hanya dimiliki Rasulullah. Para sahabat dan umat Islam pada umumnya tidak
mungkin untuk mencapai derajat ismah tersebut. Derajat yang mampu dicapai umat
Islam adalah derajat iffah. Untuk mencapai derajat tersebut manusia harus
selalu berupaya dengan melakukan kegiatan-kegiatan, di antaranya ( menurut
kitab Al Adzkar ) adalah berpuasa sunnah dan qiyamullail.
f) Selamat dari
Aib
Sebagai pengemban dakwah, dalam
sikap dan tingkah laku hendaklah berusaha untuk mengindarkan diri dari
perbuatan yang dapat menimbulkan aib apalagi fitnah. Misalnya
menonton bioskop, pergi ke tempat-tempat maksiat. Sekalipun kita dianjurkan
untuk berhati-hati dalam berbuat, kita tidak dibenarkan untuk ragu-ragu secara
berlebihan dalam melaksanakan perbuatan karena sikap ragu-ragu sudah merupakan
tanda bahwa kita telah tergoda syetan.
2. Keistimewaan-Keistimewaan
Rasulullah
a) Mencari Ridlo Allah Semata
Dalam menyampaikan risalah/dakwah,
Rasulullah tidak pernah untuk mencari sesuatu kecuali hanya semata-mata mencari
ridlo Allah. Hal ini terbukti pada saat ditawari pamannya agar menghentikan dakwahnya
dengan imbalan harta, tahta, kedudukan, dan wanita, beliau malah berkata:
" Seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan
di tangan kiriku, sekali-kali aku tak akan meninggalkan perkara (dakwah) ini
sampai Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya". Hanya ajal
saja yang mampu untuk menghentikan dakwahnya.
b) Tidak
Menuntut Upah atas Penyampaian Risalah
Tugas dakwah
merupakan tugas kenabian. Tugas inilah yang diwariskan Rasulullah setelah
wafatnya. Barangsiapa mampu tetap bertahan dalam medan ini, maka tidak ada imbalan
yang pantas kecuali surga. Mengingat betapa besar nilai dakwah ini, maka tidak
akan mungkin untuk diukur dengan kenikmatan dunia. Oleh karena itu, seorang
da'i tidak sepantasnya menuntut imbalan harta atas aktivitas dakwahnya. Seorang
da'i pasti akan mengatakan bahwa upahnya.
c) Ikhlas
Memurnikan Agama karena Allah
Allah
memerintahkan manusia untuk menyembah Allah, dan mengikhlaskan diri untuk agama
ini. Dalam hal ini, segala aktivitas yang berkaitan dengan usaha menjalankan
perintah Allah atau menjauhi larangan Allah termasuk dalam kerangka ini. Ikhlas
berarti melakukan segala sesuatu hanya untuk Allah atau melakukan sesuatu tanpa
pamrih kepada manusia (riya')
Umar bin
Khoththob selalu berdoa kepada Allah agar selalu berada dalam keikhlasan. Doa
ini selalu diulang-ulang dalam setiap kali doanya. Hal ini menunjukkan bahwa
riya' dapat masuk kepada amal siapa saja termasuk di kalangan elit sahabat
Rasulullah.
d) Fleksibel
Dalam Berdakwah
Dalam
melaksanakan dakwah beliau selalu bersikap fleksibel dan tidak pernah
memaksakan diri. Fleksibel di sini mengandung arti beliau selalu berusaha untuk
memahami objek dakwah, situasi, dan kondisi, lingkungan, serta moment yang
tepat untuk menyampaikan risalah kepada ummatnya. Antara kaum yang satu dengan
kaum yang lain, cara yang digunakan berbeda. Jadi, fleksibel di sini bukan
berarti fleksibel pada ajaran yang disampaikan tetapi fleksibel cara
penyampaiannya (orangnya).
e) Zuhud
terhadap dunia
Zuhud
terhadap dunia bukan berarti benci terhadap dunia dan segala isinya. Kita
ketahui Rasulullah adalah orang yang paling zuhud tetapi Beliau juga tidak
pernah membenci keindahan, kebersihan, kerapian, para sahabatnya yang kaya,
beliau juga menikah, berpuasa tetapi juga berbuka, shalat malam tetapi juga
tidur. Yang tidak diperbolehkan adalah yang berlebih-lebihan, tidak sesuai
dengan kebutuhan/tidak proporsional dan tidak sesuai dengan syari'at.
Memusatkan
pada pambinaan aqidah dan menekankan pada perkara iman pada yang ghaib.
Sesungguhnya hakekat pertama yang
telah jelas dalam wahyu yang disampaikan pada Rasulullah saw adalah mengenai
garis-garis besar aqidah islamiyah dalam perkembangan sejarah kemanusiaan dan
dalam hal 'ubudiyah kepada Allah adalah memusatkan permasalahan 'ubudiyah
tersebut hanya kepada Allah semata, dan melarang ibadah kepada selain-Nya.[3]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Yang dimaksud dengan dakwah adalah
mengajak orang-orang yang belum mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat
yang berhak diibadahi dan Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah. Adapun orang
yang menyuruh kebaikan itu harus memenuhi tiga syarat yaitu:
1. Mempunyai
ilmu. Orang yang bodoh tidak layak untuk mengajak kepada kebaikan. Dalam bertindak ia hanya mempunyai
tujuan karena Allah dan demi kemuliaan agama.
2. Bersikap ramah dan sayang kepada
orang yang diajak berbuat baik, menjauhkan diri dari sifat kasar dan bengis
sebagaimana pesan Allah Ta'ala,
"Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lembut." (QS. Thoha : 44)
"Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lembut." (QS. Thoha : 44)
3. Mempunyai sifat sabar dan penyantun.
Allah berfirman: "Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu." (QS. Luqman : 17)
Sebagai seorang muslim, apalagi
sebagai seorang pengemban dakwah, seharusnya membekali dirinya dengan
sebaik-baiknya. Dia harus berusaha untuk mensuriteladani sifat-sifat
yang ada pada diri para nabi. Diantaranya:
a) Jujur
(ash-shidqu)
b) Dapat
Dipercaya ( Al-Amaanah )
c) Menyampaikan
( At-Tabligh )
d) Cerdas
(Al-Fathoonah)
e) Kemaksuman
('Ismah )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar