Sabtu, 26 Desember 2015

konsep aswaja dalam dakwah



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Yang dimaksud dengan dakwah adalah mengajak orang-orang yang belum mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi dan Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah.
 Karena orang-orang kafir itu adalah orang yang belum mengakui Islam sabagai satu-satunya agama, mereka adalah orang-orang yang sesat dan munkar, maka umat Islam wajib untuk mengajak mereka kepada Islam.
Islam harus disiarkan ke seluruh penjuru dunia, agar semua manusia hanya mengabdi kepada Allah semata dan mengeluarkan manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia lainnya, serta menghilangkan segala bentuk tindak kerusakan dan kejahatan di muka bumi ini. Jika daulah telah berdiri, dan sudah memiliki kekuatan militer, maka seruan jihadlah yang berlaku.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dakwah?
2.      Sebutkan sifat-sifat rosul?
3.      Apakah syarat-syarat bagi orang yang mengajak kebaikan?












BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dakwah Dalam Aswaja
Telah kita ketahui bersama, dakwah merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Tidak boleh seorang pun dari muslim dan muslimah menghindarkan diri dari padanya. Secara garis besar, dakwah dapat dilakukan secara individu maupun berjamaah.
Dakwah secara individu dapat dilakukan oleh setiap muslim karena dakwah dengan metode ini tidak memerlukan sistem, organisasi, metode, manajemen tertentu. Dakwah dapat dilakukan dengan mengajak kepada kebaikan, saling menasihati, dan sebagainya kepada setiap orang, baik keluarga, kerabat, teman, maupun orang lain. [1]
DakwahBerjamaah Allah SWT berfirman: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung (Q.S. Ali Imran : 104).
Ayat ini merupakan perintah Allah yang mengharuskan agar di antara kita terdapat sekelompok orang (jamaah) yang menyuruh kepada perbuatan baik dan mencegah perbuatan munkar. Kewajiban tersebut dibebankan hanya kepada orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukannya (fardlu kifayah). Di ayat lain Allah mengecam suatu masyarakat atau bangsa yang di dalamnya tidak terdapat orang yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Al-Faqih berkata, “Orang yang menyuruh kebaikan itu harus memenuhi tiga syarat yaitu:
1.      Mempunyai ilmu. Orang yang bodoh tidak layak untuk mengajak kepada kebaikan. Dalam bertindak ia hanya mempunyai tujuan karena Allah dan demi kemuliaan agama.
2.      Bersikap ramah dan sayang kepada orang yang diajak berbuat baik, menjauhkan diri dari sifat kasar dan bengis sebagaimana pesan Allah Ta'ala,
"Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lembut."
(QS. Thoha : 44)
3.      Mempunyai sifat sabar dan penyantun. Allah berfirman: "Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu." (QS. Luqman : 17)

B.     Pemahaman Dakwah Rosulullah
Adapun hal-hal yang wajib dipahami dan diteladani oleh setiap muslim dalam aktivitasnya sebagai seorang pengemban dakwah, di antaranya :

1.      Sifat-Sifat Para Nabi
Sebagai seorang muslim, apalagi sebagai seorang pengemban dakwah, seharusnya membekali dirinya dengan sebaik-baiknya. Dia harus berusaha untuk mensuriteladani sifat-sifat yang ada pada diri para nabi. Diantaranya:[2]
a)      Jujur (ash-shidqu)
Nabi SAW bersabda: "Buatkanlah jaminan enam hal kepadaku tentang dirimu, maka aku akan menjamin kamu masuk surga, yaitu: jujurlah jika kamu berkata; tepatilah jika kamu berjanji; tunaikanlah jika kamu dipercaya; peliharalah kehormatanmu, pejamkan matamu; dan jagalah kedua tanganmu."
Hadits ini mengandung makna jujur dalam perkataan yang di dalamnya termasuk pula kalimat tauhid dan lainnya. Bila seseorang telah bersaksi bahwa tiada illah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah maka ia harus jujur terhadap dirinya maupun orang lain. Ia harus menyesuaikan apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat.
b)      Dapat Dipercaya ( Al-Amaanah )
Menunaikan apa yang dipercayakan kepadanya mengandung dua pengertian, yaitu amanah antara dirinya dengan Allah dan amanah antara dirinya dengan manusia. Menunaikan amanah Allah ditempuh dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan menunaikan amanah manusia ditempuh dengan cara menjaga apa yang dipercayakan kepadanya.
c)      Menyampaikan ( At-Tabligh )
Rasulullah selalu menyampaikan apa yang diwahyukan kepadanya kepada umatnya. Tidak ada satu pun wahyu yang tidak disampaikan apalagi disembunyikan. Karena takut kepada Allah, menjelang ajal beliau berkhotbah pada haji Wada'. Beliau meminta kesaksian kepada umatnya, "Apakah aku sudah menyampaikan?" Umatnya menjawab, "Shodaqta, qod balaghta (benar, engkau telah menyampaikan)." Rasulullah berseru, "Wahai Tuhanku, persaksikanlah."
Sebagian kaum muslimin yang telah mengabdikan dirinya sebagai pengemban dakwah hendaklah berusaha untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan benar, tidak disembunyikan, apalagi jika ada yang memintanya karena hukum menyembunyikan ilmu jika diminta adalah dosa besar.
d)     Cerdas (Al-Fathoonah)
Sudah kita ketahui bersama, meskipun Rasulullah adalah seorang nabi yang ummi, beliau termasuk nabi yang sangat cerdas, baik cerdas dalam sisi intelektualnya maupun cerdas dalam menyusun strategi dakwahnya sehingga hanya dalan waktu 23 tahun beliau mampu menancapkan bendera Islam di belahan dunia ini. Dalam berbagai riwayat disebutkan, bagaimana beliau menyusun strategi perang, memotivasi kaum muslimin dan sebagainya. Bagaimana beliau tetap bersikap sabar, kasih sayang, dan tidak pernah memendam dendam terhadap kaum yang lain .
e)      Kemaksuman ('Ismah )
Kemasukman ('Ismah ) adalah bebas dari kesalahan/dosa-dosa baik besar maupun kecil. Rasulullah merupakan manusia maksum yang berarti bahwa beliau terbebas dari kesalahan terutama dalam menyampaikan risalah Allah. Apa yang diperbuat, dikatakan, dan didiamkan Rasul semata-mata adalah wahyu dari Allah.
Sifat 'ismah ini hanya dimiliki Rasulullah. Para sahabat dan umat Islam pada umumnya tidak mungkin untuk mencapai derajat ismah tersebut. Derajat yang mampu dicapai umat Islam adalah derajat iffah. Untuk mencapai derajat tersebut manusia harus selalu berupaya dengan melakukan kegiatan-kegiatan, di antaranya ( menurut kitab Al Adzkar ) adalah berpuasa sunnah dan qiyamullail.
f)       Selamat dari Aib
Sebagai pengemban dakwah, dalam sikap dan tingkah laku hendaklah berusaha untuk mengindarkan diri dari perbuatan yang dapat menimbulkan aib apalagi fitnah. Misalnya menonton bioskop, pergi ke tempat-tempat maksiat. Sekalipun kita dianjurkan untuk berhati-hati dalam berbuat, kita tidak dibenarkan untuk ragu-ragu secara berlebihan dalam melaksanakan perbuatan karena sikap ragu-ragu sudah merupakan tanda bahwa kita telah tergoda syetan.

2.      Keistimewaan-Keistimewaan Rasulullah
a)      Mencari Ridlo Allah Semata
Dalam menyampaikan risalah/dakwah, Rasulullah tidak pernah untuk mencari sesuatu kecuali hanya semata-mata mencari ridlo Allah. Hal ini terbukti pada saat ditawari pamannya agar menghentikan dakwahnya dengan imbalan harta, tahta, kedudukan, dan wanita, beliau malah berkata: " Seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tak akan meninggalkan perkara (dakwah) ini sampai Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya". Hanya ajal saja yang mampu untuk menghentikan dakwahnya.
b)      Tidak Menuntut Upah atas Penyampaian Risalah
Tugas dakwah merupakan tugas kenabian. Tugas inilah yang diwariskan Rasulullah setelah wafatnya. Barangsiapa mampu tetap bertahan dalam medan ini, maka tidak ada imbalan yang pantas kecuali surga. Mengingat betapa besar nilai dakwah ini, maka tidak akan mungkin untuk diukur dengan kenikmatan dunia. Oleh karena itu, seorang da'i tidak sepantasnya menuntut imbalan harta atas aktivitas dakwahnya. Seorang da'i pasti akan mengatakan bahwa upahnya.
c)      Ikhlas Memurnikan Agama karena Allah
Allah memerintahkan manusia untuk menyembah Allah, dan mengikhlaskan diri untuk agama ini. Dalam hal ini, segala aktivitas yang berkaitan dengan usaha menjalankan perintah Allah atau menjauhi larangan Allah termasuk dalam kerangka ini. Ikhlas berarti melakukan segala sesuatu hanya untuk Allah atau melakukan sesuatu tanpa pamrih kepada manusia (riya')
Umar bin Khoththob selalu berdoa kepada Allah agar selalu berada dalam keikhlasan. Doa ini selalu diulang-ulang dalam setiap kali doanya. Hal ini menunjukkan bahwa riya' dapat masuk kepada amal siapa saja termasuk di kalangan elit sahabat Rasulullah.
d)     Fleksibel Dalam Berdakwah
Dalam melaksanakan dakwah beliau selalu bersikap fleksibel dan tidak pernah memaksakan diri. Fleksibel di sini mengandung arti beliau selalu berusaha untuk memahami objek dakwah, situasi, dan kondisi, lingkungan, serta moment yang tepat untuk menyampaikan risalah kepada ummatnya. Antara kaum yang satu dengan kaum yang lain, cara yang digunakan berbeda. Jadi, fleksibel di sini bukan berarti fleksibel pada ajaran yang disampaikan tetapi fleksibel cara penyampaiannya (orangnya).
e)      Zuhud terhadap dunia
Zuhud terhadap dunia bukan berarti benci terhadap dunia dan segala isinya. Kita ketahui Rasulullah adalah orang yang paling zuhud tetapi Beliau juga tidak pernah membenci keindahan, kebersihan, kerapian, para sahabatnya yang kaya, beliau juga menikah, berpuasa tetapi juga berbuka, shalat malam tetapi juga tidur. Yang tidak diperbolehkan adalah yang berlebih-lebihan, tidak sesuai dengan kebutuhan/tidak proporsional dan tidak sesuai dengan syari'at.
Memusatkan pada pambinaan aqidah dan menekankan pada perkara iman pada yang ghaib.
Sesungguhnya hakekat pertama yang telah jelas dalam wahyu yang disampaikan pada Rasulullah saw adalah mengenai garis-garis besar aqidah islamiyah dalam perkembangan sejarah kemanusiaan dan dalam hal 'ubudiyah kepada Allah adalah memusatkan permasalahan 'ubudiyah tersebut hanya kepada Allah semata, dan melarang ibadah kepada selain-Nya.[3]

















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Yang dimaksud dengan dakwah adalah mengajak orang-orang yang belum mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi dan Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah. Adapun orang yang menyuruh kebaikan itu harus memenuhi tiga syarat yaitu:
1.      Mempunyai ilmu. Orang yang bodoh tidak layak untuk mengajak kepada kebaikan. Dalam bertindak ia hanya mempunyai tujuan karena Allah dan demi kemuliaan agama.
2.      Bersikap ramah dan sayang kepada orang yang diajak berbuat baik, menjauhkan diri dari sifat kasar dan bengis sebagaimana pesan Allah Ta'ala,
"Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lembut."
(QS. Thoha : 44)
3.      Mempunyai sifat sabar dan penyantun. Allah berfirman: "Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu." (QS. Luqman : 17)
Sebagai seorang muslim, apalagi sebagai seorang pengemban dakwah, seharusnya membekali dirinya dengan sebaik-baiknya. Dia harus berusaha untuk mensuriteladani sifat-sifat yang ada pada diri para nabi. Diantaranya:
a)      Jujur (ash-shidqu)
b)      Dapat Dipercaya ( Al-Amaanah )
c)      Menyampaikan ( At-Tabligh )
d)     Cerdas (Al-Fathoonah)
e)      Kemaksuman ('Ismah )




[1] Laskar islam, http://www.laskarislam.com/2009-metode-dakwah-aswaja.
[2] Ibid.,
[3] Ibid.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar