BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Aswaja sebagai sebuah aliran yang pada mulanya merupakan suatu
kelompok kecil yang pada masa berdirinya dirintis oleh abu hasan al asy’ari,
sejalan dengan perkembangan jaman menjadi kelompok yang besar dan bahkan
kelompok terbesar di seluruh dunia.
Pergeseran dunia membawa aswaja pada perubahan yang menuntut aswaja
bukan hanya menjadi sebuah madzhab yang menjadi doktrin kepada para pemeluknya,
akan tetapi berkembang menjadi sebuah pandangan hidup atau dikenal dengan
istilah manhaj al fikr. Dengan perubahan dari waktu ke waktu kontribusi aswaja
menjadi sangat mempengaruhi para pemeluknya dalam beraktifitas dalam keseharian
baik dalm aktifitas ekonomi, sosial politik, maupun kebudayaan secara
keseluruhan kehidupan.
Dari makalah yang akan kami presentasikan kami berharap mampu
memberikan kontribusi yang positif akan gambaran aswaja dimasa yang akan datang
yang lebih dapat diaplikasiskan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan
bernegara, aswaja sebagai manhaj al fikr harapan kami dapat memberikan warna
dalam berbagai bidang kehidupan di dunia.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Sebutkan
Dari beberapa tradisi dalam paham aswaja?
2.
Apa
persamaan antara akhlak, etika, moral dan susila?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Aswaja Dalam Kebudanyaan
Jika kita mencermati doktrin-doktrin paham ASWAJA, baik dalam
akidah (iman), syariat (islam) ataupun akhlak (ihsan), maka bisa kita dapati
sebuah metodologi pemikiran (manhaj alfkr) yang tengah dan moderat (tawassuth),
berimbang atau harmoni (tawâzun), netral atau adil (ta’âdul), dan toleran
(tasâmuh). Metodologi pemikiran ASWAJA senantiasa menghidari sikap-sikap
tatharruf (ekstrim), baik ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Adapun penjelasan
yang lebih detail sebagai berikut:[1]
A.
Pengertian
Akhlak
Secara kebahasaan perkataan akhlak dalam bahasa Indonesia berasal
dari kosa kata bahasa arab akhlaq yang merupakan bentuk jamak dari perkataan
khilqun atau khuluqun yang berarti perangai, kelakuan, watak, kebiasaan,
kelaziman, dan peraaban yang baik. Jadi secara kebahasaan perkataan akhlak
mengacu kepada sifat-sifat manusia secara universal, laki-laki maupun
perempuan, yang baik maupun yang buruk. Dengan demikian, perkataan akhlak
mengacu kepada sifat manusia yang baik dan juga mengcau kenapa sifat manusia
yang buruk. Ada akhlak yang baik dan ada akhlak yang buruk. Ada perempuan yang
berahklak baik dan ada perempuan yang berakhlak buruk.
B.
Pengertian
Etika
Secara kebahasaan perkataan etika berasal dari bahas Yunani ethos
yang berarti watak, kesusilaan, atau adapt. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia,
etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Adapun
pengertian etika menurut istilah dapat dipaparkan sebagai berikut: Menurut
Ahmad Amin, “etika adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan
buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan
tujuan yang harus dicapai oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan
jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia."
Menurut Soegarda Poerbakawatja, “etika adalah filsafat nilai,
pengetahuan tentang nilai-nilai, ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan
keburukan di dalam hidup manusia semuanya, terutama mengenai gerak-gerik
pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai
tujuannya bentuk perbuatan”.
C.
Pengertian
Moral
Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa
latin mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adapt
kebiasaan. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah
penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya
dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan
perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut
maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai (1) prinsip hidup
yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk. (2) kemampuan untuk
memahami perbedaan benar dan salah. (3) ajaran atau gambaran tentang tingkah
laku yang baik.
D.
Pengertian
Susila
Secara kebahasaan perkataan susila merupakan istilah yang berasal
dari bahasa Sansekerta. Su berarti baik atau bagus, sedangkan sila berarti
dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Jadi, susila berarti dasar,
prinsip, peraturan atau norma hidup yang baik atau bagus. Istilah susila pun
mengandung pengertian peraturan hidup yang lebih baik. Selain itu, istilah
susila pun mengandung pengertian peraturan hidup yang lebih baik. Selain itu,
istilah susila dapat pula berarti sopan, beradab, dan baik budi bahasanya.
Dengan demikian, kesusilaan dengan penambahan awalan ked dan akhiran an sama
artinya dengan kesopanan.
Kesusilaan dalam pengertian yang berkembang di masyarakat mengacu
kepada makna membimbing, memandu, mengarahkan, dan membiasakan seseorang atau
sekelompok orang untuk hidup sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku
di masyarakat.
Ada beberapa persamaan antara akhlak, etika, moral dan susila yang
dapat dipaparkan sebagai berikut: [2]
1)
akhlak,
etika, moral dan susila mengacu kepada ajaran atau gambaran tentang perbuatan,
tingkah laku, sifat, dan perangkai yang baik.
2)
akhlak,
etika, moral dan susila merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk
menakar martabat dan harakat kemanusiaannya. Sebaliknya semakin rendah kualitas
akhlak, etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang, maka semakin
rendah pula kualitas kemanusiaannya.
3)
akhlak,
etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang tidak semata-mata
merupakan faktor keturunan yang bersifat tetap, stastis, dan konstan, tetapi
merupakan potensi positif yang dimiliki setiap orang. Untuk pengembangan dan
aktualisasi potensi positif tersebut diperlukan pendidikan, pembiasaan, dan
keteladanan, serta dukungan lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat secara tersu menerus, berkesinambangan, dengan tingkat
keajegan dan konsistensi yang tinggi.
Selain ada persamaan antara akhlak, etika, moral dan susila
sebagaimana diuraikan di atas terdapat pula beberapa segi perbedaan yang
menjadi ciri khas masing-masing dari keempat istilah tersebut. Berikut ini
adalah uraian mengenai segi-segi perbedaan yang dimaksud.
Akhlak merupakan istilah yang bersumber dari Al-Qur’an dan
al-Sunnah. Nilai-nilai yang menentukan baik dan buruk, layak atau tidak layak
suatu perbuatan, kelakuan, sifat, dan perangai dalam akhlak bersifat universal
dan bersumber dari ajaran Allah. Sementara itu, etika merupakan filsafat nilai,
pengetahuan tentang nilai-nilai, dan kesusilaan tentang baik dan buruk. Jadi,
etika bersumber dari pemikiran yang mendalam dan renungan filosofis, yang pada
intinya bersumber dari akal sehat dan hati nurani. Etika besifat temporer,
sangat tergantung kepada aliran filosofis yang menjadi pilihan orang-orang yang
menganutnya.[3]
B.
Dalam
Aswaja Membangun Prinsip Dalam Berbudaya
Inilah yang menjadi esensi identitas untuk mencirikan paham ASWAJA
dengan sekte-sekte Islam lainnya. Dan dari prinsip metodologi pemikiran seperti
inilah ASWAJA membangun keimanan, pemikiran, sikap, perilaku dan gerakan.
Antara lain:[4]
1.
Tawasuth
(Moderat)
Tawassuth ialah sebuah sikap tengah atau moderat yang tidak
cenderung ke kanan atau ke kiri. Dalam konteks berbangsa dan bernegara,
pemikiran moderat ini sangat urgen menjadi semangat dalam mengakomodir beragam
kepentingan dan perselisihan, lalu berikhtiar mencari solusi yang paling ashlah
(terbaik). Sikap ini didasarkan pada firman Allah:
Terjemah : “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat
Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan)
manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS.
Albaqarah: 143)
2.
Tawâzun
(Berimbang)
Tawâzun ialah sikap berimbang dan harmonis dalam mengintegrasikan
dan mensinergikan dalil-dalil (pijakan hukum) atau pertimbangan-pertimbangan
untuk mencetuskan sebuah keputusan dan kebijakan. Dalam konteks pemikiran dan
amaliah keagamaan, prinsip tawâzun menghindari sikap ekstrim (tatharruf) yang
serba kanan sehingga melahirkan fundamentalisme, dan menghindari sikap ekstrim
yang serba kiri yang melahirkan liberalisme dalam pengamalan ajaran agama.
Sikap tawâzun ini didasarkan pada firman Allah:
Terjemah : “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami
dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka
Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”. (QS.
Alhadid: 25)
3.
Ta’âdul
(Netral dan Adil)
Ta’âdul ialah sikap adil dan netral dalam melihat, menimbang,
menyikapi dan menyelesaikan segala permasalahan. Adil tidak selamanya berarti
sama atau setara (tamâtsul). Adil adalah sikap proporsional berdasarkan hak dan
kewajiban masing-masing. Kalaupun keadilan menuntut adanya kesamaan atau
kesetaraan, hal itu hanya berlaku ketika realitas individu benar-benar sama dan
setara secara persis dalam segala sifat-sifatnya. Apabila dalam realitasnya terjadi
tafâdlul(keunggulan), maka keadilan menuntut perbedaan dan pengutamaan
(tafdlîl). Penyetaraan antara dua hal yang jelas tafâdlul, adalah tindakan
aniaya yangbertentangan dengan asas keadilan itu sendiri.
Tasâmuh
(toleran)
Tasâmuh ialah sikap
toleran yang bersedia menghargai terhadap segala kenyataan perbedaan dan
keanekaragaman, baik dalam pemikiran, keyakinan, sosial kemasyarakatan, suku,
bangsa, agama, tradisi-budaya dan lain sebagainya.
Toleransi dalam konteks
agama dan keyakinan bukan berarti kompromi akidah. Bukan berarti mengakui
kebenaran keyakinan dan kepercayaan orang lain. Toleransi agama juga bukan
berarti mengakui kesesatan dan kebatilan sebagai sesuatu yang haq dan benar.
Yang salah dan sesat tetap harus diyakini sebagai kesalahan dan kesesatan. Dan
yang haq dan benar harus tetap diyakini sebagai kebenaran yang haq.
Toleransi dalam konteks tradisi-budaya bangsa, ialah sikap permisif
yang bersedia menghargai tradisi dan budaya yang telah menjadi nilai if masyarakat.
Dalam pandangan ASWAJA, tradisi-budaya yang secara substansial tidak
bertentangan dengan syariat, maka Islam akan menerimanya bahkan
mengakulturasikannya dengan nilai-nilai keislaman.
Dengan demikian, tasâmuh (toleransi), berati sebuah sikap untuk
menciptakan keharmonisan kehidupan sebagai sesama umat manusia. Sebuah sikap
untuk membangun kerukunan antar sesama makhluk Allah di muka bumi, dan untuk
menciptakan peradaban manusia yang madani. Dari sikap tasâmuh inilah
selanjutnya ASWAJA merumuskan konsep persaudaraan (ukhuwwah) universal.
Meliputi ukhuwwah islamiyyah (persaudaan keislaman), ukhuwwah
wathaniyyah (persaudaraan kebangsaaan) dan ukhuwwah basyariyyah atau insâniyyah
(persaudaraan kemanusiaan).
Implementasi dari paham aswaja dalam bidang sosial dan budaya yaitu
adanya beberapa tradisi yang sudah biasa dilakukan di masyarakat. Tradisi
adalah sesuatu yang terjadi berulang-ulang dengan disengaja dan bukan terjadi
secara kebetulan.
a)
Tradisi
Ngapati/ Mitoni
b)
Tradisi
Tahlilan dan Yasinan
c)
Tradisi
Melakukan Talqin mayit
d)
Tradisi
Dziba’an dan sholawatan
e)
Tradisi
Dzikir bersama
Dari beberapa tradis dalam paham aswaja telah didapatkan dari
kesepakatan para ulama’ terdahulu. Dan pasti tradisi-tradisi tersebut memiliki banyak
tujuan dan manfaatnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari beberapa tradis dalam paham aswaja telah didapatkan dari
kesepakatan para ulama’ terdahulu. Dan pasti tradisi-tradisi tersebut memiliki banyak
tujuan dan manfaatnya. Sebagai berikut:
a)
Tradisi
Ngapati/ Mitoni
b)
Tradisi
Tahlilan dan Yasinan
c)
Tradisi
Melakukan Talqin mayit
d)
Tradisi
Dziba’an dan sholawatan
e)
Tradisi
Dzikir bersama
Terdapat beberapa segi perbedaan yang menjadi ciri khas
masing-masing dari keempat istilah tersebut. Berikut ini adalah uraian mengenai
segi-segi perbedaan yang dimaksud.
Akhlak merupakan istilah yang bersumber dari Al-Qur’an dan
al-Sunnah. Nilai-nilai yang menentukan baik dan buruk, layak atau tidak layak
suatu perbuatan, kelakuan, sifat, dan perangai dalam akhlak bersifat universal
dan bersumber dari ajaran Allah. Sementara itu, etika merupakan filsafat nilai,
pengetahuan tentang nilai-nilai, dan kesusilaan tentang baik dan buruk. Jadi,
etika bersumber dari pemikiran yang mendalam dan renungan filosofis, yang pada
intinya bersumber dari akal sehat dan hati nurani. Etika besifat temporer,
sangat tergantung kepada aliran filosofis yang menjadi pilihan orang-orang yang
menganutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar