Sabtu, 26 Desember 2015

konsep aswaja dalam ekonomi 3




 
BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ekonomi dalam aswaja memilih jalan keadilan dalam mencapai kesejahteraan sosial. Bahwa kesejahteraan sosial yang tercapai haruslah dibangun di atas landasan keadilan. Dus, Ekonomi aswaja, sebagaimana Islam, memiliki sikap yang moderat (wasthiyyah). Ia tidak menzalimi kaum lemah sebagaimana terjadi pada masyarakat kapitalis, tetapi juga tidak menzalimi hak individu dan kelompok kaya sebagaimana ada pada sistem sosialisme-komunisme. Ekonomi Islam berada pada posisi tengah dan seimbang (equilibrium) antara modal dan usaha, produksi dan konsumsi, dan masalah pendapatan.
Beragam kebutuhan umat tidak lagi dapat dipenuhi  oleh fasilitas hidup seadanya yang tersedia di lingkungan. Meningkatnya beragam kebutuhan menjadi pertanda berkembangnya budaya warga yang membutuhkan  perimbangan sarana untuk memenuhinya. Tingkat pemenuhan kebutuhan sudah menjadi gaya hidup (life style) yang tidak lagi dapat dihindari, selain menjadi symbol status sosial (social stratification) juga menjadi  pertanda bahwa kesejahteraan warga telah ada perkembangan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang diperlukan ekonomi islam dalam mengatasi globalisasi?
2.      Apa permasalahan dalam berekonomi di masyarakat?









 
BAB II PEMBAHASAN

A.    Konsep Aswaja Tentang Ekonomi
Dalam konsep aswaja tentang ekonomi, Islam menganjurkan kepada setiap umatnya untuk selalu giat dalam bekerja dimanapun berada seperti Firman Allah yang berbunyi. “Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Q.S. At-Taubah: 105)[1].
Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw: “Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan”. (HR.Thabrani dan Baihaqi).
Segala aturan yang diturunkan Allah SWT. dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.[2]
Beragam kebutuhan umat tidak lagi dapat dipenuhi  oleh fasilitas hidup seadanya yang tersedia di lingkungan. Meningkatnya beragam kebutuhan menjadi pertanda berkembangnya budaya warga yang membutuhkan  perimbangan sarana untuk memenuhinya. Tingkat pemenuhan kebutuhan sudah menjadi gaya hidup (life style) yang tidak lagi dapat dihindari, selain menjadi symbol status sosial (social stratification) juga menjadi  pertanda bahwa kesejahteraan warga telah ada perkembangan. Agar tidak terjadi kesenjangan budaya (cultural gap) diperlukan strategi bagaimana harus  mengonsumsinya sehingga membutuhkan sikap dan pengetahuan tentang berbudaya yang maju serta tidak mengabaikan aturan dan norma sosial keagamaan(syariat).[3]
Tuntutan perbaikan hidup tidak terlepas dari keinginan warga untuk memperbaiki kondisi perekonomian. Naluri ekonomi warga senantiasa tertantang untuk menangkap setiap peluang  ekonomi yang dapat mendatangkan manfaat yang berakhir dengan peningkatan kesejahteraan (taraf hidup). Permasalahannya adalah  bagaimana warga dapat merasa ‘enjoy’ dalam mengembangkan usaha tanpa harus dihadapkan dengan kendala hukum syariat, sementara pekerjaan sudah menunggu untuk berkompetisi dengan pihak lain. Dibutuhkan dukungan sikapenterpreneurship yang tinggi serta ‘kenyamanan’ berusaha baik secara material maupun immaterial untuk dapat merubah kualitas hidup warga.

B.     Analisis
Dalam ekonomi beraswaja itu sangat penting karna Beragam kebutuhan umat tidak lagi dapat dipenuhi  oleh fasilitas hidup seadanya yang tersedia di lingkungan. Meningkatnya beragam kebutuhan menjadi pertanda berkembangnya budaya warga yang membutuhkan  perimbangan sarana untuk memenuhinya. Untuk memenuhi kebutuhan kita harus kerja Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw: “Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan”. (HR.Thabrani dan Baihaqi).








 
BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kepentingan ekonomi  meningkatnya perdagangan bebas dan meningkatnya hubungan antara pelaku ekonomi di pelbagai negara. Didorong oleh dasar domestik dan antarabangsa sesebuah negara yang membuka pintu perdagangan kepada negara luar.  Meningkatkan jaringan hubungan perdagangan dan pelaburan kewangan antarabangsa - perkembangan teknologi dan peluang ekonomi yang wujud dalam sesebuah negara. Negara perlu memiliki kelebihan bersaing (competitive edge) dalam pasaran antarabangsa bagi memastikan negara mampu berhadapan dengan cabaran persaingan ekonomi sejagat yang semakin meningkat. Serta meningkatkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negara.
Permasalahannya adalah  bagaimana warga dapat merasa ‘enjoy’ dalam mengembangkan usaha tanpa harus dihadapkan dengan kendala hukum syariat, sementara pekerjaan sudah menunggu untuk berkompetisi dengan pihak lain. Dibutuhkan dukungan sikapenterpreneurship yang tinggi serta ‘kenyamanan’ berusaha baik secara material maupun immaterial untuk dapat merubah kualitas hidup warga.




[1] Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahannya. (Jakarta: Pustaka Amani).
[2] Ibnu soim. http://ibnu-soim.blogspot.co.id/2012/12/konsep-aswaja-tentang-ekonomi.html.
[3] affan. http://aswajacenterpati.wordpress.com/2012/04/02/reformulasi-aswaja-sebagai-manhajul-fikr-manhajul-amal/.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar