Sabtu, 26 Desember 2015

konsep aswaja dalam ekonomi 1




 
BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam penulisan ini kami akan paparkan pendahuluan ringkas sahaja sebagai pengenalan dan kemudian pada artikel seterusnya kami akan memaparkan analisis ilmiah perbandingan sistem ekonomi aswaja dan lain-lain.
Ekonomi dalam aswaja, sebagaimana Islam, memiliki sikap yang moderat (wasthiyyah). Ia tidak menzalimi kaum lemah sebagaimana terjadi pada masyarakat kapitalis, tetapi juga tidak menzalimi hak individu dan kelompok kaya sebagaimana ada pada sistem sosialismekomunisme. Ekonomi Islam berada pada posisi tengah dan seimbang antara keduanya

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa kepentingan dalam berekonomi?
2.      Apa yang diperlukan ekonomi islam dalam mengatasi globalisasi? 
















 
BAB II PEMBAHASAN

A.    Konsep Aswaja Tentang Ekonomi
Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia dan alam semesta. Kegiatan perekonomian manusia juga diatur dalam Islam dengan prinsip illahiyah. Harta yang ada pada kita, sesungguhnya bukan milik manusia, melainkan hanya titipan dari Allah swt agar dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan umat manusia yang pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah SWT. untuk dipertanggung jawabkan.[1]
Dalam konsep aswaja tentang ekonomi, Islam menganjurkan kepada setiap umatnya untuk selalu giat dalam bekerja dimanapun berada seperti Firman Allah yang berbunyi. “Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Q.S. At-Taubah: 105)[2].
Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw: “Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan”. (HR.Thabrani dan Baihaqi).
Segala aturan yang diturunkan Allah SWT. dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.[3]



B.    

 
Perbandingan Ekonomi Islam Dengan Sosialisme dan Kapitalisme
masing-masing pemikiran kapitalisme dan sosialisme ada beberapa kesamaan dengan ekonomi Islam, walaupun tidak persis. Mekanisme pasar bebas yang dianjurkan dalam kapitalisme, ternyata jauh sebelumnya Rasulullah saw telah menyetujui market mechanism of price dan menganjurkan kepada umatnya untuk memanfaatkan mekanisme pasar dalam penyelesaian masalah-masalah ekonomi dan menghindari tas’ir (penetapan harga oleh pemerintah) jika tidak diperlukan. Namun, bukan berarti penetapan harga selamanya dilarang, melainkan dianjurkan untuk barang-barang publik (public goods) dan kondisi khusus lainnya. Pertentangan utama kapitalisme dengan ekonomi Islam adalah terletak pada asas individu yang dianutnya. Di mana kapitalisme sangat menjunjung tinggi kebebasan (liberal), berusaha dengan semangat kompetisi antarindividu tanpa sama sekali mempermasalahkan penumpukan harta kekayaan, pengembangannya secara riba dan akumulasi kapital, serta masalah pembelanjaannya yang menanggalkan nilai-nilai sosial. Asas yang lebih tepat disebut homo-homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya). Perhatian terhadap kepentingan orang lain hanya dilaksanakan dengan pertimbangan penambahan manfaat (marginal profit and utility) yang dapat dijelaskan dengan konsep pareto optimum improvement.[4]
Begitu pula dengan konsep sosialisme yang mempunyai satu kesamaan paham, yaitu lebih mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan sosial di atas kepentingan dan kesejahteraan individu. Hanya saja terdapat perbedaan yang mencolok, karena dalam mencapainya, sosialisme menyalahkan kelompok kaya (kapitalis) dan hendak berusaha memiskinkan kelompok kaya tersebut dengan merampas hak kepemilikan individu, terutama atas alat-alat produksi. Sedangkan Islam tidak pernah menganjurkan memusuhi kekayaan dan orang-orang kaya. Bahkan Islam sendiri menganjurkan agar setiap orang menjadi kaya sebagai bagian dari kebahagiaan yang harus dicapainya di dunia.[5]
Ekonomi dalam aswaja memilih jalan keadilan dalam mencapai kesejahteraan sosial. Bahwa kesejahteraan sosial yang tercapai haruslah dibangun di atas landasan keadilan. Dus, Ekonomi aswaja, sebagaimana Islam, memiliki sikap yang moderat (wasthiyyah). Ia tidak menzalimi kaum lemah sebagaimana terjadi pada masyarakat kapitalis, tetapi juga tidak menzalimi hak individu dan kelompok kaya sebagaimana ada pada sistem sosialisme-komunisme. Ekonomi Islam berada pada posisi tengah dan seimbang (equilibrium) antara modal dan usaha, produksi dan konsumsi, dan masalah pendapatan. Setidaknya ada empat hal yang menjadi ciri umum dari ekonomi Islam yang membedakannya dengan konsep perekonomian lainnya: (1) Pelarangan riba (QS 2: 275- 280), (2) Implementasi Ziswaf (QS 9: 103), (3) Produksi dan Konsumsi barang yang halal (QS 2: 168), dan (4) Tidak boros dan bermewahmewahan (QS 25: 67).
Keempat hal inilah yang tidak dimiliki oleh sistem kapitalisme maupun sosialisme. Di sisi lain, ekonomi Islam sudah menegaskan tujuannya dalam kerangka maqashid al-Syariah yang mencakup penjagaan atas agama, harta, keturunan, jiwa, dan akal. Kelima hal ini harus terjaga dalam kehidupan seseorang. Dan sebagai sistem ekonomi yang berlandaskan pada Al-Quran dan Sunnah, Ekonomi Islam juga merupakan bagian dari persoalan muamalah, oleh karena itu berlaku ketetapan  kaidah, bahwa segala aktivitas muamalah pada dasarnya boleh (mubah), kecuali ada dalil syariah yang melarangnya. Berkebalikan dari masalah ibadah. Jadi, setiap pengembangan dalam ekonomi Islam dapat dilaksanakan dengan seluas-luasnya selama tidak melanggar syariah yang telah ditetapkan.[6]



 
 
BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kepentingan ekonomi  meningkatnya perdagangan bebas dan meningkatnya hubungan antara pelaku ekonomi di pelbagai negara. Didorong oleh dasar domestik dan antarabangsa sesebuah negara yang membuka pintu perdagangan kepada negara luar.  Meningkatkan jaringan hubungan perdagangan dan pelaburan kewangan antarabangsa - perkembangan teknologi dan peluang ekonomi yang wujud dalam sesebuah negara. Negara perlu memiliki kelebihan bersaing (competitive edge) dalam pasaran antarabangsa bagi memastikan negara mampu berhadapan dengan cabaran persaingan ekonomi sejagat yang semakin meningkat. Serta meningkatkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negara.
Yang perlu dilakukan ekonomi islam dalam mengatasi globalisasi yakni dengan:
1.      Mempromosi dan mengetengahkan sistem ekonomi Islam.
2.      Mendidik masyarakat tentang sistem ekonomi Islam.
3.      Melaksanakan sistem ekonomi Islam dalam masyarakat.


[1] Ibnu soim. http://ibnu-soim.blogspot.co.id/2012/12/konsep-aswaja-tentang-ekonomi.html.
[2] Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahannya. (Jakarta: Pustaka Amani).
[3] Ibnu soim. Op, cit.,
[4] Abdussalam, S.E.I. http://www.aswj-rg.com/2015/01/ekonomi-islam-perbandingannya-dengan-sistem-kapitalisme-dan-sosialisme.html.
[5] Ibid.,
[6] Ibid.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar