|
A.
Latar
Belakang
Dalam penulisan ini kami akan paparkan pendahuluan ringkas sahaja
sebagai pengenalan dan kemudian pada artikel seterusnya kami akan memaparkan
analisis ilmiah perbandingan sistem ekonomi aswaja dan lain-lain.
Ekonomi dalam aswaja, sebagaimana Islam, memiliki sikap yang moderat
(wasthiyyah). Ia tidak menzalimi kaum lemah sebagaimana terjadi pada masyarakat
kapitalis, tetapi juga tidak menzalimi hak individu dan kelompok kaya
sebagaimana ada pada sistem sosialismekomunisme. Ekonomi Islam berada pada
posisi tengah dan seimbang antara keduanya
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa kepentingan dalam berekonomi?
2.
Apa yang diperlukan
ekonomi islam dalam mengatasi globalisasi?
|
A.
Konsep Aswaja Tentang Ekonomi
Islam adalah
satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia
dan alam semesta. Kegiatan perekonomian manusia juga diatur dalam Islam dengan
prinsip illahiyah. Harta yang ada pada kita, sesungguhnya bukan milik manusia,
melainkan hanya titipan dari Allah swt agar dimanfaatkan sebaik-baiknya demi
kepentingan umat manusia yang pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah
SWT. untuk dipertanggung jawabkan.[1]
Dalam konsep aswaja
tentang ekonomi, Islam menganjurkan kepada setiap umatnya untuk selalu giat
dalam bekerja dimanapun berada seperti Firman Allah yang berbunyi. “Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah
dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu
akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Q.S.
At-Taubah: 105)[2].
Karena kerja membawa
pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw: “Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan
karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan”.
(HR.Thabrani dan Baihaqi).
Segala aturan yang
diturunkan Allah SWT. dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan,
kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan
kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya
adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.[3]
B.
|
masing-masing pemikiran kapitalisme dan sosialisme ada beberapa
kesamaan dengan ekonomi Islam, walaupun tidak persis. Mekanisme pasar bebas
yang dianjurkan dalam kapitalisme, ternyata jauh sebelumnya Rasulullah saw
telah menyetujui market mechanism of price dan menganjurkan kepada
umatnya untuk memanfaatkan mekanisme pasar dalam penyelesaian masalah-masalah
ekonomi dan menghindari tas’ir (penetapan harga oleh pemerintah) jika
tidak diperlukan. Namun, bukan berarti penetapan harga selamanya dilarang,
melainkan dianjurkan untuk barang-barang publik (public goods) dan
kondisi khusus lainnya. Pertentangan utama kapitalisme dengan ekonomi Islam
adalah terletak pada asas individu yang dianutnya. Di mana kapitalisme sangat
menjunjung tinggi kebebasan (liberal), berusaha dengan semangat kompetisi
antarindividu tanpa sama sekali mempermasalahkan penumpukan harta kekayaan,
pengembangannya secara riba dan akumulasi kapital, serta masalah
pembelanjaannya yang menanggalkan nilai-nilai sosial. Asas yang lebih tepat
disebut homo-homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia
lainnya). Perhatian terhadap kepentingan orang lain hanya dilaksanakan dengan
pertimbangan penambahan manfaat (marginal profit and utility) yang dapat
dijelaskan dengan konsep pareto optimum improvement.[4]
Begitu pula dengan konsep sosialisme yang mempunyai satu kesamaan
paham, yaitu lebih mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan sosial di atas
kepentingan dan kesejahteraan individu. Hanya saja terdapat perbedaan yang
mencolok, karena dalam mencapainya, sosialisme menyalahkan kelompok kaya
(kapitalis) dan hendak berusaha memiskinkan kelompok kaya tersebut dengan
merampas hak kepemilikan individu, terutama atas alat-alat produksi. Sedangkan
Islam tidak pernah menganjurkan memusuhi kekayaan dan orang-orang kaya. Bahkan
Islam sendiri menganjurkan agar setiap orang menjadi kaya sebagai bagian dari
kebahagiaan yang harus dicapainya di dunia.[5]
Ekonomi dalam aswaja memilih jalan keadilan dalam mencapai
kesejahteraan sosial. Bahwa kesejahteraan sosial yang tercapai haruslah
dibangun di atas landasan keadilan. Dus, Ekonomi aswaja, sebagaimana
Islam, memiliki sikap yang moderat (wasthiyyah). Ia tidak menzalimi kaum
lemah sebagaimana terjadi pada masyarakat kapitalis, tetapi juga tidak
menzalimi hak individu dan kelompok kaya sebagaimana ada pada sistem
sosialisme-komunisme. Ekonomi Islam berada pada posisi tengah dan seimbang (equilibrium)
antara modal dan usaha, produksi dan konsumsi, dan masalah pendapatan.
Setidaknya ada empat hal yang menjadi ciri umum dari ekonomi Islam yang
membedakannya dengan konsep perekonomian lainnya: (1) Pelarangan riba (QS 2:
275- 280), (2) Implementasi Ziswaf (QS 9: 103), (3) Produksi dan Konsumsi
barang yang halal (QS 2: 168), dan (4) Tidak boros dan bermewahmewahan (QS 25:
67).
Keempat hal inilah yang tidak dimiliki oleh sistem kapitalisme maupun
sosialisme. Di sisi lain, ekonomi Islam sudah menegaskan tujuannya dalam
kerangka maqashid al-Syariah yang mencakup penjagaan atas agama, harta,
keturunan, jiwa, dan akal. Kelima hal ini harus terjaga dalam kehidupan
seseorang. Dan sebagai sistem ekonomi yang berlandaskan pada Al-Quran dan
Sunnah, Ekonomi Islam juga merupakan bagian dari persoalan muamalah, oleh
karena itu berlaku ketetapan kaidah, bahwa segala aktivitas muamalah pada
dasarnya boleh (mubah), kecuali ada dalil syariah yang melarangnya.
Berkebalikan dari masalah ibadah. Jadi, setiap pengembangan dalam ekonomi Islam
dapat dilaksanakan dengan seluas-luasnya selama tidak melanggar syariah yang
telah ditetapkan.[6]
|
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kepentingan
ekonomi meningkatnya perdagangan bebas
dan meningkatnya hubungan antara pelaku ekonomi di pelbagai negara. Didorong
oleh dasar domestik dan antarabangsa sesebuah negara yang membuka pintu
perdagangan kepada negara luar. Meningkatkan
jaringan hubungan perdagangan dan pelaburan kewangan antarabangsa -
perkembangan teknologi dan peluang ekonomi yang wujud dalam sesebuah negara.
Negara perlu memiliki kelebihan bersaing (competitive edge) dalam pasaran
antarabangsa bagi memastikan negara mampu berhadapan dengan cabaran persaingan
ekonomi sejagat yang semakin meningkat. Serta meningkatkan pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi negara.
Yang perlu dilakukan
ekonomi islam dalam mengatasi globalisasi yakni dengan:
1. Mempromosi dan mengetengahkan sistem ekonomi Islam.
2. Mendidik masyarakat tentang sistem ekonomi Islam.
3.
Melaksanakan sistem
ekonomi Islam dalam masyarakat.
[1] Ibnu soim. http://ibnu-soim.blogspot.co.id/2012/12/konsep-aswaja-tentang-ekonomi.html.
[2] Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahannya. (Jakarta:
Pustaka Amani).
[3] Ibnu soim. Op, cit.,
[4] Abdussalam, S.E.I. http://www.aswj-rg.com/2015/01/ekonomi-islam-perbandingannya-dengan-sistem-kapitalisme-dan-sosialisme.html.
[5] Ibid.,
[6] Ibid.,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar